Bloomberg: Uber Diselidiki Aparat AS, Diduga ‘Suap Polisi Indonesia’

Karna H.
Karna H.

Bloomberg: Uber Diselidiki Aparat AS, Diduga ‘Suap Polisi Indonesia’ Salah satu kantor perwakilan Bloomberg/Istimewa

WinNetNews.com – Media multinasional, Bloomberg, memuat artikel yang cukup mengejutkan. Bertajuk ‘Uber Faces Widespread Asia Bribery Allegations Amid U.S. Criminal Probe’, langsung menjadi perhatian.

Sebabnya, artikel itu menyebutkan bahwa aparat Amerika Serikat tengah menyelidiki perusahaan aplikasi layanan transportasi, Uber, karena diduga melanggar undang-undang antikorupsi dengan dugaan menyuap polisi Indonesia.

Sebagaimana dituliskan media yang berkantor di New York itu, Bloomberg menyatakan telah mewawancarai beberapa sumber, lalu Departemen Kehakiman AS segera saja menyoroti pembayaran tak lazim yang dilakukan Uber tahun lalu.

Disebutkan juga dalam artikel itu bahwa kepolisian Indonesia menjelaskan kepada Uber bahwa kantor mereka di Jakarta terletak di wilayah yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk membuka usaha. Sumber Bloomberg mengungkap seorang karyawan Uber kemudian beberapa kali mengirim uang kepada polisi agar Uber dapat terus beroperasi di kantor tersebut.

Transaksi itu muncul dalam laporan pengeluaran dengan menyebut rincian pembayaran kepada aparat.

Belakangan, menurut sumber Bloomberg, Uber memecat karyawan itu. Adapun Alan Jiang, selaku direktur bisnis Uber di Indonesia yang menyetujui laporan pengeluaran itu, cuti dan kemudian mengundurkan diri dari Uber. Jiang menolak berkomentar mengenai kasus ini.

Dikutip dari BBC Indonesia, Rabu (20/09/2017) pihak Uber Indonesia menyatakan "pihak Uber tidak dapat memberikan pernyataan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut."

Kasus tersebut lantas diketahui sedikitnya seorang anggota senior divisi hukum Uber, namun awalnya dia memutuskan tidak melaporkan kasus ini kepada aparat Amerika Serikat. Baru setelah Departemen Kehakiman AS mengonfrontasi Uber mengenai dugaan pelanggaran Undang-Undang TIndak Korupsi di Luar Negeri (Foreign Corrupt Practices Act), Uber memaparkan apa yang terjadi di Indonesia.

Sumber kantor berita Reuters juga mengatakan bahwa laporan yang dibuat Bloomberg benar adanya.

Uber mengaku tengah bekerja sama dengan para penyelidik, namun menolak berkomentar lebih lanjut. Wyn Hornbuckle, juru bicara Departemen Kehakiman AS, menolak berkomentar. Tapi, pada Agustus lalu, perusahaan yang berbasis di San Francisco itu mengaku tengah bekerja sama dalam penyelidikan awal Departemen Kehakiman AS mengenai penyuapan pejabat asing.

Penyelidikan aparat AS terhadap Uber tak hanya terbatas di Indonesia.

Uber juga diselidiki atas dugaan memberi 'uang pelicin' kepada pejabat Malaysia. Pada 2016, dana pensiun Malaysia atau Kumpulan Wang Persaraan menanamkan US$30 juta (Rp398 miliar) di Uber. Kurang dari setahun kemudian, pemerintah Malaysia meloloskan aturan soal transportasi online.

Bisnis Uber di Cina dan Korea Selatan pun turut diselidiki atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Tindak Korupsi di Luar Negeri. 

Apa Reaksi Kamu?