Bolehkah Booster Vaksin Berbeda dengan Vaksin Awal?

Rusmanto

Dipublikasikan 13 hari yang lalu • Bacaan 2 Menit

Bolehkah Booster Vaksin Berbeda dengan Vaksin Awal?
istimewa

Winnetnews.com -  Indonesia rencananya akan mulai memberikan booster atau dosis tambahan vaksin COVID-19 untuk masyarakat pada 12 Januari 2022. Tujuannya untuk mempertahankan imunitas populasi karena tingkat antibodi dapat menurun seiring berjalannya waktu.

Terkait hal tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mengeluarkan izin darurat untuk 5 vaksin yang akan digunakan sebagai booster. BPOM juga memberi panduan mix-match yang menjelaskan penggunaan dosis vaksin berbeda dari yang digunakan sejak awal.

Sebagai contoh seorang yang awalnya divaksinasi dengan Coronavac nantinya bisa mendapat booster dari Zifivac, para penerima vaksin AstraZeneca bisa mendapat booster Moderna, dan seterusnya.

Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Profesor Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), menjelaskan panduan mix-match vaksin tersebut dikeluarkan berdasarkan data studi. Tidak sembarang vaksin bisa dicampur karena harus dilihat tingkat efektivitas dan keamanannya.

"Mungkin sudah menjadi pandangan dari masyarakat bahwa untuk booster ini ada dua kategori. Bisa di-booster oleh dirinya sendiri yang kita katakan homolog atau booster dengan vaksin lain. Ini yang mungkin diceritakan Ibu Penny (Kepala BPOM) bagaimana BPOM mencari heterolognya yang cocok yang mana, untuk memberikan keamanan tinggi yang mana," ungkap Prof Sri pada konferensi pers, Senin (10/1/2022).

Risiko sembarangan campur dosis vaksin COVID-19

Studi terkait mencampur dosis vaksin COVID-19 sebetulnya sudah diteliti sejak tahun lalu saat negara-negara mengalami krisis suplai vaksin. Peneliti berusaha mencari tahu apakah ini aman dilakukan sehingga otoritas kesehatan tidak perlu menunggu suplai dari satu jenis vaksin untuk mengejar cakupan vaksinasi.

Hasilnya beberapa studi melihat bahwa mencampur dosis vaksin tertentu tidak berbahaya, malah bisa meningkatkan respons antibodi. Hanya saja memang ada laporan peningkatan kasus efek samping.

Efek samping yang muncul tidak jauh berbeda dari efek samping yang sudah dilaporkan pada tiap jenis vaksin. Mulai dari demam, meriang, nyeri, dan lemas.

Kepala peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan sempat memperingatkan masalah mencampur dosis vaksin COVID-19 hanya boleh diputuskan oleh otoritas kesehatan.

"Individu tidak boleh memutuskan sendiri, hanya boleh dilakukan lembaga kesehatan berdasarkan data," kata Soumya seperti dikutip dari Reuters.

"Data studi mix-match berbagai jenis vaksin perlu ditunggu. Imunogenisitas dan keamanan kedua jenis vaksin perlu dievaluasi," pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BPOM Beri Panduan 'Mix-Match' Booster Vaksin, Apa Risikonya Bila Diabaikan?"


 

Share This Story

RELATED ARTICLE

Loading interface...