BPOM Tarik Peredaran Obat Ranitidin? Kamu Wajib Tahu Ini

Khalied Malvino
Khalied Malvino

BPOM Tarik Peredaran Obat Ranitidin? Kamu Wajib Tahu Ini Obat maag ranitidin. [Foto: Tribunnews]

Winnetnews.com - Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik peredaran obat maag ranitidin yang sudah dikenal dari masa ke masa lantaran memicu kanker. Tercatat, ada lima jenis obat maag ranitidin yang ditarik BPOM.

Seperti diketahui, ranitidin telah mendapat persetujuan BPOM sejak 30 tahun silam. Berdasarkan hasil penelitiannya, BPOM menyatakan telah melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu. Obat ranitidin yang beredar di pasaran ini memunyai tiga kemasan yang berbeda, yaitu tablet, sirup, dan injeksi.

Melansir laman Intisari, ranitidin juga telah melalui penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Dari situs resminya, obat ranitidin diklaim mengandung pengotor nitrosamine atau N-Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam kadar rendah.

NDMA adalah turunan zat nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Angka batas cemaran yang diperbolehkan yaitu 96 nanogram (ng)/hari. NDMA bersifat karsinogenik atau zat pemicu kanker jika dikonsumsi melebihi ambang batas dalam jangka waktu yang lama.

NDMA juga dikenal sebagai pencemar lingkungan yang sering ditemukan dalam air, daging, sayuran, dan produk susu. Pada 13 September 2019, FDA dan BPOM Eropa (EMA) mengeluarkan peringatan adanya temuan cemaran NDMA dalam kadar rendah di sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin.

BPOM mengklaim, dalam rangka kehati-hatian, pada 17 September 2019, telah diterbitkan Informasi Awal untuk Tenaga Profesional Kesehatan terkait Keamanan Produk Ranitidin yang terkontaminasi NDMA.

Sebelumnya, di Singapura, Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura (HAS) menemukan delapan merk obat ranitidin yang mengandung pengotor NDMA melebihi batas aman.

Temuan tersebut membuat HAS menghentikan penjualan dan pasokan obat-obatan ranitidin yang tercemar. Delapan obat tersebut antara lain Aciloc 150 mg dan 300 mg, Apo- Ranitidine Tablet 150mg, Hyzan Tablet 150mg, Neoceptin R-150 Tablet 150mg, Vesyca Film Coated Tablet 150mg, Xanidine Tablet 150mg, Zantac (suntikan Zantag 25mg/mL, Zantac Syrup 150 mg/10ml, Zantac Tablet 150mg), serta Zynol-150 Tablet 150mg.

BPOM menarik lima produk ranitidin yang terdeteksi mengandung zat penyebab kanker. Lima produk obat tersebut berasal dari perusahaan yang berbeda.

Berikut daftarnya:

a. Ranitidin Cairan Injeksi 25mg/mL, pemegang izin edar PT Phapros Tbk, dengan nomor bets produk beredar:

95486 160 s/d 190

06486 001 s/d 008

16486 001 s/d 051

26486 001 s/d 018

b. Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL, pemegang izin edar PT Glaxo Wellcome Indonesia, dengan nomor bets produk beredar:

GP4Y

JG9Y

XF6E

c. Rinadin Sirup 75mg/mL dan Indoran Cairan Injeksi 25mg/mL, pemegang izin edar PT Global Multi Pharmalab, dengan nomor bets produk beredar:

0400518001

0400718001

0400818001

d. Indoran Cairan Injeksi 75mg/mL, pemegang izin edar PT Indofarma, dengan nomor bets produk beredar:

BF171008

e. Ranitidin Cairan Injeksi 25 mg/mL, pemegang izin edar PT Indiofarma, dengan nomor bets produk beredar:

BF171009 s/d 021

BPOM telah memerintahkan industri farmasi pemegang izin edar produk untuk menghentikan produksi dan distribusi.

Industri farmasi diwajibkan melakukan pengujian secara mandiri terhadap cemaran NDMA dan menarik secara sukarela bila ditemukan kandungan cemaran melebihi ambang batas yang diperbolehkan.

Selain itu, BPOM juga melakukan penarikan kembali seluruh bets produk dari peredaran.

Masyarakat yang menjalani terapi pengobatan menggunakan ranitidin disarankan untuk menghubungi dokter dan apoteker.

Dikabarkan sebelumnya, Akademisi dan Praktisi Kesehatan Dr Ari Fahrial Syam menyebutkan, alternatif dari ranitidin yang lebih kuat menekan asam lambung yaitu omprazol, lansoprazol, rabeprazol, esomeprazol, dan pantoprazol.

Apa Reaksi Kamu?