Brasil dan Turki Lebih Parah

Brasil dan Turki Lebih Parah

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjodjo meminta masyarakat tidak perlu khawatir dan menanggapi secara berlebihan dengan semakin melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Menurut Agus, pelemahan mata uang juga dialami negara-negara lain terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan lebih terpuruk ketimbang rupiah.

"Kalau rupiah terjadi pelemahan adalah bagian dari kondisi (ekonomi) di dunia. Kalau rupiah sekarang ada depresiasi, dari Januari-Agustus itu besarnya 14%, tapi Brasil riilnya 44%, malah Turki sampai 20%," jelas Agus ditemui di acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015, di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (9/9/2015).

Agus menuturkan, semakin loyonya rupiah terhadap dolar murni merupakan imbas gejolak ekonomi global.

"Indonesia 14%, karena faktor di luar dan ada penguatan di dolar, dan rencana AS naikkan suku bunga. Tapi mata uang yang lain, apalagi dengan adanya yuan dilemahkan, justru ada pergerakan dan volatilitas. Rupiah umumnya dalam kondisi baik, dan gejala sifatnya temporer," ujarnya.

Agus mengatakan, jika memang rupiah terus melemah, pihaknya tidak akan tinggal diam dengan kembali melakukan penggelontoran cadangan devisa untuk memperbaiki rupiah.

"BI selalu ada di pasar, supaya nggak terjadi kondisi volatilitasnya tinggi. Seperti kaya 1997-1998 kan dari Rp 2.500 bisa melemah sampai Rp 15.000. Kita sekarang selalu jaga volatilitas di batas baik dan tidak mengkhawatirkan," pungkasnya.