Budak Seks ISIS Jalani Tes Keperawanan Setelah Kabur

Budak Seks ISIS Jalani Tes Keperawanan Setelah Kabur

Minggu, 31 Jan 2016 | 06:31 | Rusmanto
WinNetNews.com - Gadis –gadis Yazidi yang berhasil melarikan diri setelah dijadikan budak seks oleh ISIS masih diharuskan menjalani tes keperawanan untuk membuktikan penganiayaan terhadap mereka. Demikian dilaporkan oleh kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia di Irak.

Luna, salah seorang korban penculikan yang dijadikan sebagai budak seks oleh ISIS, diyakini telah menjalani tes keperawanan sebagai metode pembuktian perkosaan untuk petugas di Irak yang mendokumentasikan kejahatan kelompok militan tersebut.

Namun, menurut seorang hakim mengatakan kepada peneliti dari kelompok Pengamat Hak Asasi Manusia bahwa komite itu telah menghentikan penggunaan metode tersebut dan mengadopsi cara baru yang direkomendasikan oleh PBB.

Penggunaan metode tes keperawanan juga mendapat kecaman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena menimbulkan rasa sakit dan tekanan bagi para korban. Hasil yang didapat dari penggunaan metode ini juga dianggap tidak dapat memberikan validitas ilmiah.

 

Metode ini didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa semua gadis yang masih perawan memiliki selaput dara yang masih utuh dan akan mengeluarkan darah pada saat pertama kali berhubungan seks. Kepercayaan ini juga yang membuat para korban pemerkosaan untuk melakukan operasi selaput dara karena khawatir mereka akan dikucilkan oleh calon suami dan masyarakat sekitar.

Gadis-gadis Yazidi banyak yang menjadi korban penculikan dan perkosaan oleh militan ISIS yang menganggap mereka sebagai orang-orang kafir sehingga diperbolehkan untuk dijadikan budak seks menurut aturan mereka.

Menurut Begum yang telah mewawancarai puluhan korban serupa, para gadis itu membutuhkan bantuan, perawatan kesehatan, untuk memulihkan mereka dari trauma yang telah dialami. Tes keperawanan yang dilakukan justru akan membangkitkan kembali trauma tersebut.

disadur dari situs OKEzone

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...