(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Budaya Antri Mempengaruhi Tolak Ukur Suatu Bangsa

Oky
Oky

Budaya Antri Mempengaruhi Tolak Ukur Suatu Bangsa Sumber Foto : Istimewa

WInnetnews.com - Budaya antri adalah hal yang penting yang tidak di sadari masyarakat dari masa ke masa. Padahal budaya antri menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa itu sendiri. Sudah sangat sering di ingatkan sampai di peringati di beberapa tempat dengan tulisan “Harap Antri” tetapi masyarakat tidak menghiraukan dan menganggap tidak penting, mereka hanya memikirkan diri nya sendiri yang dahulu.Orang tua pun menjadi salah satu bagian dalam tidak menghiraukan pentingnya Budaya antri di indonesia ini apa lagi mengingatkan ke anak anaknya dalam hal meng- antri. Padahal dengan meng-antri memiliki banyak pesan moral di balik penting nya budaya antri tersebut.

Sebuah studi di Australia menyimpul kan lebih mementing kan anak nya ke sopan santun dan attitude terhadap masyarakat dan makhluk hidup lain. Selain itu, salah satu dosen juga pernah menerangkan bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa di lihat dari ketertiban masyarakat nya. Semakin tertib masyarakat nya pada hukum dan norma yang berlaku semakin maju lah negara tersebut. Di Indonesia sangat sulit untuk menerapkan Budaya Antri, lebih tepatnya harus ada sanksi berat agar masyarakat indonesia takut untuk melanggar nya, memang masyarakat Indonesia harus dikeraskan agar dapat mematuhi aturan yang ada. Seperti contoh: Melewati jalur busway / transjakarta, sekarang sudah tidak ada yang berani untuk melewati jalur busway / transjakarta karena sudah di tegaskan sanksi yang berat. Masyarakat mematuhi aturan jika sudah di keraskan peraturan - peraturan nya. Kenapa harus dibuat sanksi berat? Padahal Indonesia cukup baik untuk menegur dan memberi rambu-rambu untuk meng-antri tidak perlu ada sanksi, tetapi masih saja masyarakat yang tida perduli dengan apa yang ada di lingkungan sekitar.

Padahal Budaya Antri adalah pelajaran penting untuk semua masyarakat dalam semua umur. Karena banyak kegiatan yang memerlukan antri meng-antri bukan hanya sekedar antri busway / transjakarta atau antri putar balik saja, itu saja masih banyak yang tidak mematuhi dan tidak aware akan meng-antri mereka hanya mementingkan diri nya sendiri saja tanpa memikirkan orang lain yang sudah menunggu untuk mendapat giliran nya. Sebenarnya meng antri adalah hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan hanya memerlukan ke sabar an dan menghargai orang lain untuk mendapat kan keadilan. Jika di bandingkan Negara - negara maju lain nya negara kita masih sangat berbanding jauh tepatnya ke budaya meng-antri, di negara maju lain nya masyarakat sekitar nya sudah mengetahui  akan penting nya budaya antri, siapa yang duluan dia yang menerima  duluan dia yang mendaptkan hak nya duluan, ini salah satu contoh yang patut untuk kita contoh.

( sumber : google )

Tidak perlu kita ingatkan dengan tulisan besar “Harap Meng-Antri” seharusnya masyarakat sudah sadar tanpa ditegur dahulu baru ingin meng-antri. Seperti contoh ingin naik Busway / Transjakarta karena sudah terlambat seseorang menyelak langsung masuk, padahal diluar itu masih banyak orang-orang yang telat juga tapi tetap meng-antri karena sadar diri dan menghargai orang lain, karena itu sudah menjadi resiko dan konsekuensi dari bagian per orang masing-masing. Budaya kan lah antri untuk kepentingan bersama, jika dibalik pun kita akan marah dan kesal menemui orang lain seperti itu. Jadi lah diri masyarakat yang pintar tanpa harus diberikan sanksi yang keras.

Memang pendidikan untuk Budaya Antri terhadap anak-anak dan masyarakat lebih harus diperdalam memang sulit jika dari kecil dan dari awal tidak di terapkan perihal penting nya meng- antri karena sangat terkait dengan kepribadian kita sendiri dan terkait dengan melakukan kegiatan- kegiatan yang lain. Banyak manfaat yang dapat kita terapkan jika kita sudah menyadari pentingnya Budaya meng - Antri di lingkungan sekitar dalam bentuk apapun. Diantara nya beberapa manfaat seperti berikut:

  1. Melatih kesabaran anak untuk bisa mengendalikan emosi nya yang tidak labil jika memang belum giliran nya harus menunggu agar adil tehdadap yang sudah meng-antri dahulu.
  2. Belajar menghormati dan menghargai hak orang lain. Mereka yang datang duluan mendapatkan hal untuk mendapat kan duluan.
  3. Belajar akan konsekuensi terhadap perbuatan yang dilakukan. Jika ia telat ia harus mendapatkan konsekuensi untuk mendapat giliran antri paling belakang.
  4. Masyarakat atau anak akan bisa lebih mengatur waktu terhadap kegiatan yang akan kita lakukan.
  5. Menjadikan waktu kosong yang bermanfaaat disaat mengantri. Seperti meng-hafal, dan lain-lain.
  6. Belajar ber sosialisasi terhadap masyarakat lain yang juga mengantri.
  7. Belajar sopan, tertib, dan rapih.
  8. Belajar berani, jika ada yg mendahului nya mereka ber hak menegur.
  9. Malu jika menyerobot antrian karena tidak ada yang seperti itu.

Sebenarnya, studi tentang antrian bukan lah hal yang baru hanya saja masyarakat tidak perduli akan budaya meng-antri ini. Ada 3 komponen dalam sistem meng-antri yaitu:

  1. Populasi dan cara kedatangan pelanggan datang ke dalam system.
  2. Sistem pelayanan.
  3. Kondisi pelanggan saat keluar system.

Masyarakat Indonesia sangat membutuh kan  pendidikan dengan adanya Budaya meng Antri ini. Seperti yang kita lihat di Indonesia sulit sekali untuk mewujudkan suatu ketertiban salah satunya adalah Budaya Antri ini.

Budaya Antri adalah hal penting yang harus di tanamkan sejak dini karena banyak sekali masyarakat tidak perduli lagi dengan hal meng-antri. Antri sendiri adalah proses berdiri bersama dalam waktu yang tidak dapat di tentukan. Di Indonesia menyepelekan antri sudah sangat lah biasa, dimana pun dalam bentuk apa pun.

Berikut contoh kasus dalam Budaya Antri :

  1. Antri di WC

    Mayoritas adalah perempuan. Sering sekali ditemukan karena Ia kebelet dan sudah tidak tahan mereka langsung masuk saja tanpa meng antri. Tidak menghargai orang lain yang sudah meng-antri terlebih dahulu. Apa lagi Ibu-Ibu sudah paling tidak mau disalahkan. Walaupun mereka lebih tua, tetap saja meng-antri tidak memandang umur. Semua berhak menaati peraturan yang ada, bagaimana bisa menghargai diri sendiri jika dengan meng antri, menghargai orang lain yang sudah lebih dulu meng antri saja tidak bisa? Perlu diketahui bahwa meng-antri masa kini yakni 1 line garis ke belakang tapi masih banyak saja yang membuat barisan baru agar lebih cepat masuk, tidak mematuhi peraturan yang ada dan sudah dibuat dengan pihak toilet tersebut. Ternyata masih banyak yang belum mengetahui bahwa meng-antri masa kini yang telah d tetap kan ialah garis 1 line ke belakang, mereka meng-antri di depan setiap pintu kamar mandi. Padahal aturan yang mereka ketahui salah mereka hanya mengambil keputusan sendiri. Jika sudah di tegur, malah yang salah, yang lebih galak. Kalau begini harus pribadi orang tersebut yang harus di benarkan dengan pendidikan penting nya Budaya Antri di berbagai tempat.


    ( sumber : google )
  2. Antri Photo

    Nah, ini juga banyak sekali di temukan. Pelaku nya yah Ibu-ibu lagi kebanyakan mayoritasnya. Walaupun sudah di tegur banyak orang tetap saja tidak merasa bersalah sama sekali.
  3. Public Transport

    Salah satu problem terbesar dalam masalah antri meng-antri. Transportasi umum seperti Transjakarta dan Kereta Api. Banyak sekali masyarakat tidak mengantri dan menyelak seenaknya dan yang lebih parah nya lagi hampir semua masyarakat sebagian besar seperti itu laki-laki maupun perempuan. Sampai-sampai banyak yang mengalami keributan sampai luka-luka karena hanya masalah meng-antri saja. Bayangkan hanya karena masalah antri yang dianggap tidak penting sampai menimbulkan keributan yang luar biasa. Pendidikan untuk Budaya Antri di bidang ini memang sangat lah penting dan wajib.
  4. Private Transport

    Seperti mobil  dan motor dalam banyak hal, mengantri untuk putar balik, mengantri lampu merah sampai menimbulkan kecelakaan akibat tidak sabar untuk mengantri. Akibat yang fatal karena hal yang tidak ditaati para pengemudi. Padahal, jika kita mengantri dengan benar dan tertib kita akan lebih menghemat waktu dan tidak menimbulkan kemacetan yang ada.
  5. Antri Mini Market
    Nah, ini juga banyak sekali ditemukan apa lagi mayoritas Ibu-ibu lagi yang menjadi kasusnya. Berantem hanya karena menyelak di Mini Market adalah hal yang sangat memalukan, yang kasus nya hanya tidak mengantri atau menyelak. Apakah tidak malu jika tidak mengantri dan ditegur orang lain? Dan tidak merasa bersalah hanya karena “buru-buru”. Semua orang mempunyai kepentingan masing-masing di luar sana tetapi antri tetap antri, orang lain tidak peduli dengan apa yang sedang kita alami begitu pun kita. Maka taati lah saja aturan karena itu sudah menjadi resiko dan konsekuensi kita jika kita tidak tepat waktu atau sejenis nya. Dengan meng-antri juga mengajarkan keadilan bahwa siapa yang duluan dia yang berhak mendapatkan service duluan.
  6. Antri Bank
    Sangat jengkel bukan jika sudah mengantri lama padahal hanya ingin ber transaksi sebentar saja tetapi selalu di selak oleh orang lain, jika di tegur pun tidak di tanggapi apa lagi perempuan hanya bisa bersabar. Antri mengantri tidak memandang laki-laki maupun perempuan, muda atau tua, karena harus di didik dari kecil penting untuk mengantri, dan menghargai orang lain tidak mengenal jenis kelamin nya apa, umur nya berapa, semua sama tidak membeda – beda kan.


    ( sumber : google )
  7. Food & Baverages / Food Court


    Banyak nya kejadian yang tidak mengenakan juga di tempat makan, sampai di tempat makan saja ber kasus akibat tidak mengantri, hal yang tidak di perdulikan masyarakat masa kini, hal yang sebenar nya mudah di lakukan tapi tidak di taati.
    Contoh kasus : Siapa yang pesan duluan, makanan siapa yang datang duluan dan siapa yang mengambil duluan. Sudah lazim di temukan dimana-mana. Walaupun ada beberapa yang sesuai  dengan nomor urut antri, tetapi sebagian besar telah melupakan antri.
  8. Antri Sembako

    Antri Sembako banyak menimbul kan hal yang tidak mengenakan, keributan, kerusuhan, sampai tawuran antar warga, Ibu-ibu desak-desak an, orang ke injek-injek, pingsan karena kehabisan nafas berdesakan, dan banyak hal lagi dan cukup sering di temukan di berbagai tempat.
    Simple, hanya mengantri tapi masyarakat susah sekali untuk menaati nya. Dengan mengantri kita tidak perlu menibulkan keributan antar warga, ibu-ibu berantem, orang luka-luka, orang pingsan, hal-hal yang tidak perlu di ributkan, semua warga akan mendapatkan jatah dan rejeki nya masing-masing.

    ( sumber : google )

Menurut kuesioner yang saya bagikan lebih banyak orang tidak mau mengantri karena malas menunggu dan tidak sabar dan juga terburu –buru. Hanya 20% dari 100% yang perduli akan penting nya meng antri dalam segala hal karena saling berkaitan, 66% masyarakat tidak perduli dan 14% karena terpaksa terburu-buru.

Menurut hasil penelitian yang sudah di teliti, masyarakat Indonesia hanya kurang perduli terhadap sesama, terkadang mereka dengan diri nya saja tidak perduli apa lagi dengan orang sekitar nya. Masyarakat Indonesia hanya butuh pendidikan yang ekstra untuk peduli dengan sesame dan juga pengertian yang mendalam akan pentingnya Budaya antri. Dengan perduli dengan sesama pasti akan lebih bisa menghargi orang lain yang ada di sekitar, baru memulai pendidikan pentingnya melakukan budaya antri  karena sangat berpengaruh dalam lingkungan dan tindakan kita sehari-hari. Karena sudah terlanjur tidak di didik untuk mengantri di masa pendidikan nya.

Banyak masyarakat tidak mau mengantri karena memiliki berbagai alasan :

  1. Keadaan Darurat

    Salah satu alasan orang tidak mau mengantri adalah karena mereka memiliki situasi yang sedang darurat dan mengharuskan mereka terburu-buru sehingga mereka tidak dapat mengantri.
  2. Tidak ada pengetahuan

    Tidak ada pengetahuan akan pentingnya budaya antr,i oleh karena itu sering menyerobot barisan antri dan tidak menganggap penting budaya antri yang sangat berpengaruh pada kehidupan sehari hari.
  3. Kebiasaan

    Orang tidak memiliki kebiasaan untuk mengantri dan tidak di didik sejak kecil maka sudah terbiasa jika serobot menyerobot sehingga menimbulkan keributan.
  4. Membawa pengaruh buruk

    Orang yang menyerobot antrian akan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama karena merasa orang lain melakukan hal tersebut.

Minimnya pengetahuan budaya antri pada masyarakat Indonesia merupakan penyebab -penyebab yang membuat masyarakat indonesia selalu menyerobot antrian. dan juga orang selalu mengganggap kepentingan nya adalah nomor satu tanpa memikirkan kepentingan orang lain sehingga menimbul kan sikap egois.

Alasan-alasan seperti itulah yang biasanya menyebabkan orang tidak mau mengantri, sehingga menyebabkan masalah sosial yang akan mengganggu lingkungan masyarakat. Karena ketidaktahuan atas Budaya Antri akan mengakibatkan banyak masalah salah satu nya macet karena banyak mobil yang berebutan untuk menggunakan jalan lebih dulu. Budaya antri yang di terapkan akan mempengaruhi perilaku dan moral setiap orang sehingga dapat memperngaruhi pribadi dan orang lain untuk melakukan hal yang baik. Dengan di terapkan budaya antri sejak dini akan membantu anak untuk memiliki attitude yang baik dan dapat menolong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

( sumber : google )

Oleh karena itu, Budaya Antri harus di terapkan pada anak usia dini contoh di sekolah harus ada pelajaran tata krama dan etika tidak hanya akademik saja. Bisa dari hal kecil seperti antri berbaris di kantin, antri berbaris masuk kelas, dan juga di berikan penyuluhan terhadap orang tua - orang tua agar dapat menerap kan Budaya Antri kepada lingkungan keluarga nya dan juga orang tua harus mendukung anak nya dengan memberikan contoh yang baik .Berani untuk menegur dan memberikan arahan pada orang - orang yang tidak menaati aturan  mengantri, jangan takut salah jika memang benar. Jangan terus menerus di biarkan demi kepentingan bersama, jika terus menerus di biarkan tidak akan ada perubahan dalam hal budaya antri.

(  sumber : google )

 

Ditulis oleh : Tresiany Margareht

Mahasiswi LSPR Jakarta

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});