Cara Hindari Relaps Pasca Operasi Bibir Sumbing

Cara Hindari Relaps Pasca Operasi Bibir Sumbing

WinNetNews.com - Keberhasilan perawatan gigi pada pasien bibir sumbing, termasuk pasca operasi salah satunya ditentukan oleh perawatan yang stabil. Sehingga, sebisa mungkin gigi yang relaps pasca dirawat pun bisa dihindari.

Dr drg Nia Ayu Ismaniati, MD.Sc, SpOrt(K) menuturkan, ketika gigi sudah dirawat dan sudah baik posisinya, tapi kemudian mengalami pergeseran dan berubah posisinya, kondisi itulah yang disebut relaps atau tidak stabil. Kondisi relaps ini berarti menunjukkan perawatan gigi yang tidak terlalu sempurna.

"Maka dari itu, penting kita lakukan perawatan, sehingga pergeseran gigi-giginya itu bisa stabil di tempatnya. Itu baru bisa dikatakan perawatan kita berhasil," kata drg Nia, di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.

Lantas, berapa batasan waktu gigi tidak mengalami relaps sehingga dikatakan perawatan yang dilakukan berhasil? Menurut drg Nia, beberapa literatur mengatakan relaps tidak bisa diprediksi sehingga yang bisa dilakukan hanya menunggu dan melihat kondisi gigi. Bahkan di bidang orthodontik, lanjut drg Nia, relaps masih menjadi kondisi yang dipertanyakan.

 

"Jadi nggak tahu kapan bisa benar-benar stabil, butuh berapa tahun. Hanya saja, kalau saya bisa melihat di dua tahun pertama memang terjadi perubahan besar pada gigi, tiga tahun kemudian perubahannya tidak terlalu besar sehingga makin lama makin stabil. Hal ini juga bis aterjadi karena pertumbuhan sudah selesai sehingga perubahannya tidak terlalu banyak," kata drg Nia.

Untuk meminimalisir risiko relaps, penataan gigi bisa dilakukan di daerah yang netral. Di mana tidak ada dorongan atau tekanan misalnya di daerah yang dekat dengan lidah, pipi, atau bibir. Sebab, ketika gigi mendapat dorongan berlebih, maka akan terjadi gerakan melawan otot yang memperbesar kemungkinan relaps.

"Patut diingat bahwa pasien bibir sumbing perlu penanganan yang cukup panjang dengan biaya yang cukup. Misalnya ada di suatu daerah di Indonesia timur, bahkan pasien seperti itu tidak dirawat sama sekali. Sehingga, hasilnya pun nggak terlalu baik kan?" pungkas drg Nia.