Cara Unik China Untuk Olah Limbah Sampah. Jijik Tapi Efektif Juga
Foto: Istimewa

Cara Unik China Untuk Olah Limbah Sampah. Jijik Tapi Efektif Juga

Selasa, 30 Mei 2017 | 09:15 | Fellyanda Suci Agiesta

WinNetNews.com - Mengelola sampah tidak hanya dengan mesin, tapi bisa dengan makhluk hidup juga. Seperti di China, ribuan belatung putih yang rakus merobek sisa daging, sayuran dan buah-buahan di sebuah peternakan yang tidak biasa di Cina barat daya.

Ini mungkin bukan pemandangan yang indah, tapi larva rakus ini bisa membantu China menyingkirkan sesuatu yang jauh lebih buruk: gunungan limbah makanan di negara ini.

Menurut para ahli, larva lalat hitam, yang asli Amerika, masing-masing dapat menyantap sampah mereka setiap hari. Pertanian di provinsi Sichuan kemudian mengubah serangga menjadi pakan ternak berprotein tinggi dan kotorannya menjadi pupuk organik.

"Larva ini tidak menjijikan, karena mengelola limbah makanan, kamu harus melihat ini dari sudut yang lain," kata Hu Rong, manajer peternakan di dekat kota Pengshan.

Tidak ada kekurangan untuk larva: Setiap orang membuang hampir 30 kilo makanan per tahun di China, sebuah negara berpenduduk 1,4 miliar orang.

image0

"Rata-rata satu kilo belatung bisa memakan dua kilo sampah dalam empat jam," kata Hu.

Setiap tahun, China menghasilkan total 40 juta ton limbah makanan, bobot setara dengan 110 Empire State Buildings.

Tapi ada alasan budaya dibalik masalah ini, kata Wang.

"Bila kamu mengundang seseorang untuk bersantap di restoran, kebiasaannya adalah selalu memesan lebih banyak piring daripada yang diperlukan, untuk menunjukkan keramahan. Tak pelak lagi, sisa makanan dilempar keluar," katanya.

Tapi larva hitam itu terbang, makhluk yang agak panjang dan langsing, lebih dari sekadar menghilangkan sampah.

image1

Setelah digemukkan, beberapa larva dijual hidup atau dikeringkan untuk memberi makan hewan seperti ayam, ikan, dan kura-kura. Mereka memiliki komposisi bergizi: protein hingga 63 persen dan lipid 36 persen.

Belatung memungkinkan untuk memulihkan protein dan lemak yang masih ada dalam limbah, lalu mengembalikan nutrisi ke dalam siklus makanan manusia melalui ternak. Kotoran larva bahkan bisa digunakan sebagai pupuk organik di pertanian.

China, Kanada, Australia, dan Afrika Selatan termasuk di antara negara-negara yang legal untuk memberi makan unggas dan ikan dengan serangga.

"Ini lebih terbatas di Amerika Serikat dan di Uni Eropa," kata Christophe Derrien, sekretaris jenderal Platform Internasional Serangga untuk Pangan dan Makanan, sebuah lembaga nirlaba yang mewakili sektor produksi serangga Eropa.

Uni Eropa akan mengizinkan protein serangga sebagai pakan di peternakan ikan sejak Juli, kata Derrien.

"Ini adalah langkah awal yang menggembirakan karena Uni Eropa membuka ini lebih dan lebih," katanya.

Apa keuntungannya?

Daur ulang limbah makanan dapat menawarkan manfaat ekonomi dan juga lingkungan. Dengan memperhitungkan biaya (listrik, tenaga kerja, biaya pengiriman, dan harga limbah), dia menghasilkan keuntungan tahunan antara 200.000 dan 300.000 yuan ($ 29.000 sampai $ 43,500), jumlah yang besar di China.

Maka tak mengherankan jika peternakan larva hitam itu yang muncul di seluruh China sejak situs pertama muncul di negara tersebut tiga tahun lalu.

"Tahun ini, kami berharap bisa membuka tiga atau empat situs baru di sekitar Chengdu," kata Wang.

"Idenya adalah mengubah sampah menjadi zat yang bermanfaat." katanya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...