Catcalling Adalah Musuh Semua Perempuan
Sumber Foto : Istimewa

Catcalling Adalah Musuh Semua Perempuan

Selasa, 15 Jan 2019 | 09:15 | Oky

Winnetnews.com - Catcalling adalah kasus kekerasan seksual yang terjadi disekitar kita, korban dari fenomena ini didominasi oleh perempuan bayangkan kamu sedang berjalan kaki di suatu tempat. Tiba-tiba kamu melewati segerombolan cowok cowok. Mereka kemudian mulai memanggil-manggil kamu atau meneriakki beberapa hal. Bisa bermacam-macam, mulai dari meminta kamu menengok dan melihat ke arah mereka, meminta kamu tersenyum untuk mereka, bertanya kamu hendak kemana, bertanya apakah kamu ingin ditemani, meminta berkenalan, dan lain lain. Apakah hal ini tidak asing?

Rasanya hampir setiap perempuan pernah mengalami situasi semacam ini. mendefinisikan catcalling sebagai siulan, panggilan, dan komentar yang bersifat seksual atau ga diinginkan oleh pria kepada wanita yang lewat. Sedangkan secara lebih luas, street harassment adalah bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat publik. Menurut riset dari Hollaback di 42 kota di seluruh dunia, 71% perempuan pernah mengalami street harassment sejak usia puber (11-17 tahun), dan lebih dari 50% di antaranya termasuk pelecehan fisik. Namun catcalling dan street harassment sendiri adalah fenomena yang masih jarang sekali di teliti dan dibahas lebih lanjut. Oleh karena itu isu ini seringkali masih dianggap remeh, dianggap sebagai sesuatu yang akan dimaklumi. Seolah hal ini dianggap wajar sehingga perempuan harus memaklumi perlakuan tersebut perempuan diharap hanya mengabaikan, tetap berjalan, dan melupakannya begitu saja.

Street harassment seringkali dikaitkan dengan pemerkosaan. Di sini kita tidak akan berbicara mengenai pemerkosaan yang bisa menjadi satu tulisan berbeda. Namun ada benang merah yang bisa ditarik dari keduanya, bahwa kerap kali wanita sendiri yang disalahkan karena memakai pakaian tertentu yang dianggap “terlalu terbuka” atau “mengundang”.  Padahal sebenarnya paham bahwa perempuan berhak menerima perlakuan tertentu karena caranya berpakaian dan berpenampilan adalah bagian dari rape culture. 

Perlu ditanamkan bahwa: no matter what they choose to wear, they are not asking to be raped!

Sebagian besar laki laki tidak pernah mendapatkan catcalling oleh perempuan. Seorang laki laki yang berjalan di jalanan gang atau tempat yang ramai dengan muka cemberut tidak akan pernah diminta untuk tersenyum oleh wanita yang dilewatinya. Dan laki-laki tidak akan pernah mendapatkan perkataan mengenai tubuhnya atau mendengar apa yang dilakukan seorang perempuan tersebut kepadanya tanpa persetujuan lelaki tersebut. Seaneh-anehnya situasi ini terlihat, tapi situasi ini telah mencerminkan bagaimana bentuk pelecehan ini adalah berdasarkan gender.

Beberapa orang juga menganggap sepele hal ini dengan beranggapan bahwa panggilan tersebut hanyalah sebuah pujian dan tanda bahwa kamu “menarik” sehingga mendapat perhatian. Perlu ditekankan bahwa komentar yang bernada seksual bukanlah pujian. Apakah dalam situasi tersebut kamu memiliki alasan dan menginginkan nya terjadi? Apakah terdapat persetujuan secara baik di mana perempuan hanya dianggap objek saja. Padahal semua orang memiliki hak atas tubuhnya sendiri yang berarti ga sembarangan orang berhak mengomentari tubuh dan penampilan perempuan dan memiliki kekuatan untuk itu. Seolah tubuh perempuan yang ada di publik hanya untuk dinikmati saja, menjadi milik publik dan bukan milik dirinya sendiri

Stop Telling Women to Smile adalah sebuah pergerakan yang dicagagas oleh seniman asal New York bernama Tatyana Fazlalizadeh. Untuk melawan pelecehan seksual berdasarkan gender. Ia membuat sebuah campaign untuk meningkatkan kesadaran dengan seni sindiran dipublik terbuka.

Catcalling di Indonesia

Kami melakukan wawancara dengan salah satu korban catcalling, diandra 27 tahun, pegawai bank. Dia menuturkan bahwa hampir setiap hari dia mendapatkan perlakuan catcalling. Misalnya saat melewati depan gang jalanan rumahnya Ketika ada seorang laki-laki, yang dia tidak kenal, bersiul dan meneriakkan “neng” emosi nya akan bercampur antara marah dan takut. Dia menuturkan “Saya marah, saya tidak terima dengan apa yang laki-laki itu lakukan terhadap saya. Tapi saya juga takut dan tidak berbuat apa apa mengenai hal tersebut. Setiap kali saya berjalan kaki, walau cuman sekedar dari rumah saya ke warung yang jaraknya dekat saya selalu jalan menunduk dan mengepalkan tangan. Beberapa kali saya diteriaki oleh beberapa kuli bangunan di dekat rumah saya, disiuli. Saya sadar bahwa alasan saya menunduk adalah rasa takut saja, dan alasan saya mengepalkan tangan adalah karena saya marah”.

Salah satu pengalaman yang berat untuk diceritakan ke orang lain adalah pelecehan seksual di jalan atau street harassment yang pernah tania alami 17 tahun pelajar. “Saat itu aku sedang menuju toko buku. aku mengenakan seragam SMA dengan rok semata kaki. Atasan yang aku pake tidak pas badan kok aku bukan tipe murid yang mengecilkan baju agar bentuk tubuhku terlihat jelas.  Di depan jalanan gang rumah aku itu ada beberapa anak lelaki yang aku perkirakan masih berusia SD. Saat aku melewati mereka, tiba-tiba mereka menggoda aku dan kemudian memukul pantat aku. Rasanya aku ingin menangis. Bayangkan, catcall dan street harassment dilakukan oleh anak kecil. Dan lagi-lagi, aku tak berbuat apa apa”.

Catcall dan street harassment terjadi bukan karena pakaian yang digunakan, hal tersebut terjadi karena kita adalah perempuan.

Entah apakah hal ini benar atau tidak, namun dari apa yang diperhatikan dari teman-teman dan lingkungan: banyak orang yang membiarkan ini menjadi korban catcall bahkan ada yang menganggap hal tersebut sebagai suatu pujian. Namun, hal ini bukan hal yang dapat dimaklumi dan tidak akan pernah menjadi suatu pujian.

Catcall adalah perbuatan yang mengganggu keamanan dan kenyamanan seseorang, khususnya perempuan. Catcall adalah kekerasan secara aksi. Catcall juga bentuk rasa tidak hormat kepada para perempuan.

Mengapa harus wanita yang menjadi objek kekerasan seksual in? mengapa kasus catcalling ini sangat memperlihatkan ketimpangan gender? Mengapa pria jarang mendapatkan catcall? Mengapa wanita harus merasakan ketidaknyamanan berada di lingkunan nya sendiri? Hal inilah yang menjadi masalah besar dan benang merah catcalling.

Cara termudah lain jika ‘catcalling’ terjadi pada kita adalah dengan memberikan tatapan marah, sinis dan se jijik mungkin, hingga mereka merasa gak nyaman sendiri. Atau bisa juga memberikan gestur ga suka Jika kebetulan kalian takut menegur langsung, bisa meminta pertolongan pada orang terdekat. Masalah ‘catcalling’ memang masih jadi isu yang sulit dan jarang diperhatikan,kurangnya pengetahuan soal pelecehan seksual dari para pelaku, hingga belum ada payung hukum yang mengatur ini. Dalam UU Kekerasan Seksual pun problem ini tidak dimasukkan secara khusus dengan alasan susah memperoleh saksi mata. Namun rasanya, tak berlebihan jika perempuan pengguna jalan dihargai dengan tidak dilecehkan. Sebab ‘catcalling’ adalah akar dari mimpi buruk kekerasan seksual terhadap perempuan.

Budaya Catcalling harus diubah dan laki laki harus menggerti dan mengakui hal yang mereka lakukan adalah salah dan mereka harus menyampaikan itu ke teman-teman, tetangga, keluarga dan rekan. Pendidikan harus mulai sejak dini di di sekolah dan pemerintah harus menyediakan edukasi tentang berbagau bentuk pelecehan seksual. Meskipun hukum yang mengatur tentang catcalling akan sulit ditegakkan apa lagi di indonesia, cara untuk menangani kasus tersebut  bisa menjadi salah satu tanda untuk perubahan yg baik. Pelecehan seksual di jalan mungkin masih jauh dibandingkan dengan kejahatan dari perkosaan, tetapi itu akan memulai mengrah lelucon berbau sindiran, menekankan perbedaan gender yang akan mengarah pada pelecehan, ancaman, dan pelecehan seksual. Hal tersebut untuk menghalangi perempuan untuk merasakan kehidupan nyaman setiap hari. Berbicara tentang “Budaya Catcalling” sedini mungkin dapat mencegah kejehatan yang lebih berbahaya dan lebih mengancam wanita kedepan nya.

Penelitian Tentang Catcalling

Lantas bagaimana cara menghadapi ‘catcalling’? Hollaback di Jakarta pada 2017 pernah menggagas kampanye anti pelecehan dengan turun ke jalan dan lewat Twitter. Di AS, Hollaback juga memiliki kampanye berbentuk video, grafik, dan komik yang menarik dan mudah dipahami mengenai hal ini. Cara yang lebih unik diterapkan pelajar asal Amsterdam Noa Jansma,yang rutin mengunggah foto pelaku ‘catcalling’ di akun Instagram-nya @dearcatcallers. Aksi ini dilakukan dengan tujuam mengkampanyekan penolakan terhadap fenomena ‘catcalling’.

Kasus

Saya mewawancarai lagi salah satu korban catcalling bernama andira berumur 17 tahun pelajar di daerah jakarta pusat. Dia menuturkan “kayanya pelecehan seksual jalanan (catcalling) itu sudah jadi makanan sehari hari aku sih, soalnya kan rumahku di daerah gang dan banyak banget tukang ojek atau pedagang yang suka ngumpul atau gak pas aku jalan mau ke sekolah banyak yang suka siul siul atau becandain biasanya kalau cuman begitu (siulan, candaan) suka ku biarin ajasih palin tapi kalau sudah pegang pegang (kontak fisik) aku akan marah dan melawan. Atau gak lapor pak RT”

Di AS, berdasarkan catatan yang dirilis di situs Stop Street Harassment, 65 persen perempuan dinyatakan pernah mengalami pelecehan di jalan alias street harassment pada tahun 2014. Sementara, hasil studi peneliti dari kelompok anti pelecehan yaitu iHollaback dan Cornell University pada tahun yang sama menunjukkan, 84 persen perempuan dari 42 negara pernah mengalami pelecehan di jalan sebelum menginjak 17 tahun. Bentuk pelecehan yang paling sering mereka terima ialah catcalling.

Bagaimana dengan indonesia? Survei dari YouGov menempatkan Jakarta sebagai kota kelima di dunia dengan tingkat pelecehan verbal terhadap perempuan paling tinggi, khususnya di transportasi umum. Empat kota di atasnya ialah Mexico City, Delhi, Bogota, dan Lima.

Hal-hal gak menyenangkan seperti ini dianggap biasa dialami perempuan, tetapi gak semuanya sadar bahwa yang mereka terima merupakan pelecehan seksual. Melapor kepada yang berwajib pun jadi sulit lantaran di Indonesia, belum ada UU yang mengatur mengenai catcalling atau street harassment. Ditambah lagi sulitnya saksi saat kejadian, kasus pelecehan verbal yang dialami perempuan pun hanya di anggap angin lalu

Menghadapi catcalling, perempuan tentu saja lebih sering diam dan berupaya tak peduli. Mereka yang mencoba melawan balik, hanya  akan ditertawakan oleh para pelaku. Pilihan untuk diam pada akhirnya menyumbang tingginya angka pelecehan seksual di seluruh dunia.

Untuk di Indonesia, sejak tahun 2011 Komnas Perempuan mencatat angka pelecehan seksual meningkat hingga hampir 100 persen. Setidaknya 268 kasus pelecehan seksual terjadi di ranah komunitas.

Angka tersebut masih tidak akurat, karena hanya menghitung dari jumlah laporan yang diterima korban. Sementara kasus-kasus lain yang tak dilaporkan karena korban tak berani bersuara, otomatis tak bisa ikut dihitung.

Fenomena catcalling membuat Kate Walton, seorang warga Australia yang telah tinggal di Indonesia lima tahun, melakukan eksperimen dengan berjalan kaki dari Pasar Mayestik menuju Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Sepanjang perjalanan, Kate menerima perlakuan catcalling dalam berbagai jenis, mulai dari disiuli hingga blakblakan diteriaki dengan kata kata ga pantas.

Jadi, Kate menerima perlakuan catcalling sebanyak 13 kali sepanjang setengah jam berjalan kaki dari Mayestik ke Plaza Senayan (source @dearcatcallersID)

Selama ini, perilaku catcalling kerap dianggap biasa, bahkan dipandang sebagai pujian bagi si perempuan. Dalam kasus ini perempuan jadi objek untuk memuaskan mata lelaki.

Perilaku catcalling, di jelaskan sebagai perilaku berdasarkan gender atau pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang asing di tempat umum dan tidak diinginkan oleh si korban, sehingga membuat korban merasa tidak nyaman, marah, hingga takut berada di lingkungan nya sendiri atau berada di keramaian bebas

Aksi catcalling beragam, mulai dari memanggil nama, mengomentari fisik atau bentuk tubuh, sampai memanggil dengan omongan dan candaan yang menjurus pada hal hal berbau seksual

Seperti yang udah disebut di awal, korban pelecehan ini rata-rata adalah perempuan. Terutama kalo mereka lagi jalan sendirian. Entah disapa pake ‘neng’ “cantiiiik” sama segerombolan orang asing yang di dominasi laki laki, disuruh senyum, digodain, dikomen seksi, cantik dan disiul-diulin. Hal ini udah dianggap biasa di Indonesia karena kita terbiasa berfikir mungkin hanya candaan atau namanya juga cowok. Kalo kita mengeluh risih dan melapor ke pihak berwajib juga kadang diremehkan dan dianggap berlebihan , jadi kita terbiasa menganggap catcalling sebagai 'pujian' karena ‘digoda’ berati seorang perempuan cukup menarik untuk dijadikan korban pelecehan diatas candaan yang bodoh

Belgia jadi negara pertama yang membuat undang-undang kalo ‘catcalling’ adalah aksi ilegal, menyusul Perancis akhir tahun 2017 mulai membahas aturan ‘catcalling’ dan kayaknya juga bakal memberlakukan aturan yang sama meski belum ada keterangan resmi soal tindak lanjut diskusi ini. Di Indonesia sendiri belum ada istilah ‘pelecehan seksual’ di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), negara kita memakai istilah ‘cabul’ yang dalam pasal 289-296 KUHP mendefinisikan kata cabul sebagai perbuatan melanggar norma kesusilaan, mencakup aktivitas menggodai, menyentuh, dan aktivitas lain yang melecehkan orang lain secara seksual.

Jadi apa yang bisa kita lakuin pas lagi digoda-goda sama orang asing? 

  1. Pertama, kita harus bisa pura pura tidak mendengar! Sok sok gak liat dan tidak merasa saja
  2. Kedua, hindari jalan sendirian lebih baik jalan rame rame apa lagi ditempat tempat yang rawan terjadi catcalling
  3. Ketiga, kalo terlanjur digoda, kita bisa liat liat mata mereka seolah kita tidak terima, ini akan ampunh karena mereka akan merasa tidak enak hati

Jadi solusi terbaik untuk menghadapi kasus catcalling ini dengan MELAWAN, Jangan diam! Kita sebagai perempuan harus bersuara dan jangan menganggap kasus ini adalah sebuah candaan semata, dan solusi lain pula agar suatu saat akan ada edukasi tentang pelecehan seksual dengan berbagai macam kategori dan pentingnya edukasi tentang catcalling sejak dini, agar moral bangsa dapat diperbaiki secara berkala dari generasi mendatang. Kasus catcalling bukanlah candaan, ini pelecehan seksual dan ketimpangan gender. Jangan sampai wanita hanya sebagai objek pemuas pria saja. Kita harus bertindak. Dan jangan diam. Catcalling bukan lah pujian catcalling adalah pelecehan seksual, musuh semua perempuan.

 

 

Ditulis oleh Zulfa Maharani

Mahasiswi London School Public Relation Semester 3

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...