Skip to main content

Cegah pengangguran, pemerintah diminta hati-hati naikkan tarif cukai

Cegah pengangguran, pemerintah diminta hati-hati naikkan tarif cukai
Cegah pengangguran, pemerintah diminta hati-hati naikkan tarif cukai

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan Kementerian Keuangan untuk berhati-hati menaikkan tarif cukai. Penaikan cukai tanpa disertai penegakkan hukum dinilai hanya akan merugikan industri rokok legal dan pekerja.

Berdasarkan pengalaman, penaikan cukai justru menciptakan pengangguran.

"Kenaikkan cukai juga menyuburkan rokok ilegal, sehingga industri dan pemerintah dirugikan," ujar Peneliti Indef Enny Sri Hartati, di Jakarta, kemarin.

Selain itu, kata dia, penaikan cukai ternyata tak mendongkrak pendapatan negara. Sebaliknya, pendapatan negara dari cukai rokok makin menurun.

Seperti diketahui, cukai rokok menyumbang 95 persen pendapatan cukai.

"Objek cukai tidak hanya rokok, masak hampir 95 persen cukai dari rokok, ini sangat ironis," katanya. "Jangan sampai setiap rencana kenaikan pendapatan negara, justru berdampak kontraksi pada ekonomi, terutama sektor industri padat tenaga kerja seperti rokok."

Menurutnya, pemerintah harus cerdik dalam menggenjot penerimaan pajak tanpa harus menimbulkan kontraksi.

"Harusnya, mereka yang menghindar pajak dikejar. Jangan sampai wajib pajak aktif justru terus ditekan sehingga kontradiktif."

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Jawa Timur Sulami Bahar menambahkan, ketika tarif cukai naik tahun lalu, sebanyak 19 ribu buruh rokok kretek mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Secara keseluruhan, sebagian besar dari 400 pabrik tutup.

"Kami yang sudah memberi kontribusi luar biasa terhadap negara, tetapi industri tembakau nasional selalu dirongrong."

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top