Cekcok AS-China Soal Klaim LCS Bikin Runyam ASEAN
Kapal nelayan China yang "bertengger" di Laut China Selatan (LCS). (Foto: Axios)

Cekcok AS-China Soal Klaim LCS Bikin Runyam ASEAN

Selasa, 14 Jul 2020 | 10:17 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Kontroversi dua negara yang diklaim menguasai dunia, Amerika Serikat (AS) dan China terus berkonflik. Bahkan perseteruan antar kedua negara "digdaya" itu kini merapat ke Asia Tenggara.

Polemik perebutan wilayah Laut China Selatan (LCS) menjadi salah satu pemicu konflik AS-China di Asia Tenggara. Penyerobotan LCS oleh China dianggap ilegal oleh AS yang dinilai tumpang tindih dengan sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang juga sebagian wilayahnya masuk ke dalam LCS

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Mike Pompeo menegaskan penolakan klaim paksa China terhadap Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) di lepas pantai Pulau Natuna, Indonesia. Selain itu, batu karang Mishief Reef dna Second Thomas Shoal yang berada di bawah yurisdiksi atau kedaulatan Fiipina juga ditentang AS.

Hal senada juga ditentang AS terkait klaim China terhadap Kepulauan Spartly yang berlokasi di sekitar Vanguard Bank, Vietnam. AS-China juga "beradu kening" terkait Luciana Shoals di lepas pantai Malaysia serta ZEE Brunei Darussalam sebagai tindakan ilegal dan melawan hukum internasional.

Disadur dari CNN Indonesia, Selasa (14/7), Pompe menganggap klaim dan agresivitas China di perairan kaya akan sumber daya alam itu merupakan aksi perundungan terhadap negara di kawasan, terutama yang memiliki sengketa wilayah di sana.

"Kami ingin memperjelas bahwa klaim Beijing terhadap sumber daya alam di seluruh Laut China Selatan merupakan tindakan yang benar-benar ilegal dan merupakan kampanye perundungan untuk mengontrol wilayah itu," kata Pompeo melalui pernyataan pada Senin (13/7).

Ini merupakan pertama kalinya AS menyatakan bahwa klaim musuh bebuyutannya di LCS ilegal. Selama ini, Gedung Putih hanya menentang atau mengecam setiap klaim dan provokasi yang dilakukan Beijing terhadap perairan itu.

Dilansir AFP, pernyataan Pompeo tersebut memperjelas sikap AS berpihak pada sejumlah negara di Asia Tenggara yang selama ini terus menerima provokasi dan agresivitas klaim China atas LCS.

"Setiap tindakan China yang melecehkan kegiatan penangkapan ikan di negara lain atau pengembangan hidrokarbon di perairan ini, atau melakukan kegiatan apa pun secara sepihak, adalah aksi melanggar hukum," papar Pompeo seperti dilansir AFP.

LCS menjadi perairan rawan konflik setelah Beijing mengklaim hampir 90 persen wilayah di perairan itu. Klaim China tersebut tumpang tindih dengan wilayah perairan dan ZEE sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Sementara itu, Indonesia menegaskan tidak memiliki sengketa dengan China di LCS. Namun, aktivitas sejumlah kapal ikan dan patroli China di ZEE Indonesia di sekitar Natuna semakin membuat khawatir Jakarta.

Meski bukan negara yang memiliki klaim wilayah di LCS, AS kerap menentang manuver China di perairan yang dianggap Washington sebagai perairan internasional itu.

AS berupaya tetap menjadikan LCS sebagai jalur perdagangan internasional utama, sebagai perairan yang bebas dilalui siapa saja.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...