Cerita Eks Pecandu: Menyesal Konsumsi Narkoba
Foto: hishouserehab.com

Cerita Eks Pecandu: Menyesal Konsumsi Narkoba

Selasa, 12 Nov 2019 | 08:55 | Nur Yasmin Sulma

Winnetnews.com - Penyalahgunaan narkoba di kalangan millennials kian meningkat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarko, yang dilansir pada laman BNN.

“Hasil dari penelitian kita bahwa penyalahgunaan itu beberapa tahun lalu, milenialls atau generasi muda hanya sebesar 20 persen dan sekarang (2019) meningkat 24 -28 persen, kebanyakan pengguna adalah anak-anak dan remaja,” kata Heru.

Peningkatan ini merupakan salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi di bidang sosial media, karena millennials semakin mudah melakukan kegiatan jual beli barang terlarang tersebut. Perilaku tersebut dapat juga mempengaruhi perubahan fisik dan psikologis yang timbul pada pengguna narkoba, contohnya rasa ketergantungan.

Menurut Dodi (nama samaran) mantan pemakai narkoba, ganja adalah jenis narkoba yang paling mudah ditemukan di kalangan remaja dengan harga yang relatif murah. Menurutnya, pemakaian narkoba adalah lanjutan dari kecanduan rokok dan alkohol, dengan begitu millennials akan dianggap “naik level”.

Dodi mengisahkan awal mula ia menggunakan narkoba karena rasa ingin tahu dan ikut-ikutan. Dodi kian berlanjut menggunakan ganja dan sabu, sehingga menjadi candu untuk terus menggunakan narkoba dan mencoba berbagai jenis narkoba lainnya. Ia mengakui ganja, sabu, dan narkoba jenis lainnya adalah kenikmatan bagi pemakainya, terlebih jika sedang merasa sakit.

“Lo jadi tenang, everything is easy. Biasanya kalo lagi keseleo atau sakit-sakit badan setelah olahraga, gue ngeganja, itu ilang sakitnya.” Papar Dodi.

Faktanya, memang benar narkoba adalah obat-obatan yang dapat menghilangkan rasa sakit jika digunakan dengan dosis yang tepat. Namun, remaja menggunakan narkoba dengan dosis yang berlebih, sehingga lebih tepat jika dikatakan sebagai penyalahgunaan narkoba.

Psikolog dan dosen dari London School of Public Relations Jakarta Afdaliza, M.Psi menyatakan, penyebab utama remaja menggunakan narkoba adalah karena penasaran. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri pemakai juga sangat berpengaruh, seperti nilai agama, rasa percaya diri, nilai sosial yang baik, dan nilai kebaikan lainnya. Remaja yang terjerat narkoba biasanya tidak tertanam nilai-nilai tersebut dalam dirinya.

“Kemudian faktor lingkungan juga termasuk faktor terbesar. Karena jika sudah memasuki remaja, biasanya mereka akan banyak mencari informasi dari luar rumah dan akan mengikuti lingkungan tempatnya bergaul”, tutur Afdal.

Orang tua Dodi sedih dan kecewa saat mengetahui Dodi positif menggunakan ganja setelah melakukan test urine di sekolahnya, “orang tua gue nangis, Kakak gue nangis, Ayah gue gabisa ngomong apa apa lagi saking shock-nya”

Dodi merupakan remaja yang pintar, namun narkoba dan alkohol menjerumuskannya ke dalam kehidupan yang gelap. “gue ranking 13 dalam tes ujian masuk Perguruan Tinggi, dapat beasiswa dan uang saku bulanan dari kampus”. Namun kepintaran itu kian lama semakin menyusut dengan gaya hidupnya yang sudah kecanduan narkoba. Dodi juga kerap kali menerima bayaran untuk mengerjakan tugas teman-temannya, kemudian uang tersebut digunakan untuk membeli narkoba.

Berbagai upaya dilakukan oleh orang tua Dodi untuk menghentikan kebiasaan buruk anaknya itu. Berbagai perdebatan antara Dodi dan orang tuanya pun kerap kali mewarnai kehidupan Dodi.

7 tahun Dodi menjalani hidup dengan ketergantungan narkoba. Hingga pada suatu waktu ia dijebak oleh ibunya dengan tujuan dimasukkan ke dalam pesantren rehabilitasi di daerah Tasikmalaya.

“Saat itu sore menjelang Maghrib di pesantren rehab, gue duduk di depan masjid sebelahan dengan pak ustadz. Gue denger temen gue lagi ngaji baca Surat Ar-Rahman, dan di surat itu ada ayat yang terus diulang ulang (fa bi`ayyi ālā`i rabbikumā tukażżibān) gue tanya ke Pak ustad itu artinya apa” Kata Dodi. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?, dijawab pak ustad sambil nepuk pundak gue” Pungkas Dodi  memeragakan jawaban dari pak ustad. “Nangis gue disitu, langsung berhenti narkoba, baru sadar, apa lagi yang gue butuhin? Semuanya udah dikasih nikmat sama Allah. Jadi bisa dibilang hidayah gue di ayat  itu.”

Dodi juga mengakui, 7 tahun yang ia lewati merupakan 7 tahun terhancur dalam hidupnya. Kini, Dodi sangat menyesali tindakan pemakaian narkoba beberapa tahun yang yang lalu. Saat ini Dodi sedang menata kembali kehidupannya bersama istri. Dodi menyadari, jika saja ia tidak mengenal narkoba, dan menjalani kehidupannya dengan benar, ia sudah menjadi orang yang sangat sukses. Maka dari itu, Dodi sangat menyesal telah membuang kesempatan emasnya untuk memulai karir dengan mengalihkannya pada narkoba.

Menurut Afdal, banyak sekali yang dapat dilakukan oleh remaja agar terhindar dari narkoba, salah satunya dengan mengetahui kemampuan yang ada dalam dirinya.

“Menerapkan komunikasi empati juga sangat penting untuk mengerti keadaan orang lain”, Jelas Afdal. “remaja saat ini juga perlu untuk meningkatkan self awareness agar mengerti apa yang diri kita butuhkan”, lanjut Afdal.

Satu hal yang paling penting menurut Afdal yaitu menyayangi diri sendiri, “lakukan hal-hal yang disukai untuk menyayangi diri sendiri, setelah itu akan terbentuk kebanggan pada diri sendiri.”  Papar Afdal. “Jika kebanggan pada diri sudah terbentuk, maka akan terbentuk self awareness yang dapat menyadarkan kita agar menjauhi hal-hal buruk termasuk narkoba”, Afdal memperjelas.

Kisah Dodi di atas adalah satu dari sekian banyak kisah yang terjadi di kalangan remaja. Jadi, ayo kita terapkan satu langkah jauhkan remaja dari narkotika dan obat-obatan terlarang.

***

 

 

Penulis adalah mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relation Jakarta. Hobinya melakukan banyak hal aktif seperti berorganisasi, fotografi, dan presenting. Yasmin senang sekali memiliki banyak teman. Menurutnya, dengan memiliki bayak teman, manusia akan mengenal dunia lebih luas lagi.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...