Skip to main content

Cerita Salah Seorang Pasukan Oranye Tentang Ahok

Sumber foto : istimewa
Sumber foto : istimewa

Winnetnews.com - Kekalahan calon gubernur petahana Basuki Tjahaya (Ahok) - Djarot Syaiful Hidayat (Djarot) dari hasil hitungan cepat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta menyisakan kesedihan bagi pasukan orange. Salah satunya, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Koja, Helly (45).

Perempuan berhijab ini mengaku, kinerja Ahok-Djarot selama ini dianggap dapat memperjuangkan kesejahteraan masyarakat kalangan bawah. Selama satu dekade Helly menjadi petugas kebersihan, baru memiliki honor setara Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta, sebesar Rp 3.350.000, di masa kepemimpinan Ahok.

"Saya bekerja sebagai petugas kebersihan (penyapu jalan) sejak 2007. Waktu itu, honor cuma Rp 300 ribu per bulan," ungkap Helly saat ditemui di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Koja, Koja, Jakarta Utara, Jumat (21/4/2017).

Baginya, Ahok-Djarot telah mengajarkan kedisiplinan dalam menekuni pekerjaan yang dilakukannya. Dicontohkan, sampah tidak boleh berceceran sepanjang lokasi jalan yang menjadi tanggungjawabnya, yakni Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Sulawesi, Koja, Jakarta Utara.

"Pemantauan ketat. Jika sampah dibiarkan berceceran, maka akan dikenakan sanksi berupa pemotongan honor. Ini konsekuensi kinerja kami," ungkapnya.

Terkait akan hadirnya pemimpin Ibu Kota yang baru, Dia berharap ada kepedulian terhadap kesejahteraan para pekerja kecil sepertinya. Jangan sampai pergantian tersebut justru menurunkan kualitas kerja yang dapat menjadikan Jakarta semakin kumuh.

"Kebersihan Jakarta ada di kami (Petugas PPSU). Jika tidak disejahterakan atau bahkan dihilangkan, maka kota ini akan kembali kumuh," tutupnya.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top