Chevron Sudah Mem-PHK 1500 Karyawannya

Chevron Sudah Mem-PHK 1500 Karyawannya

Sabtu, 6 Feb 2016 | 14:18 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Chevron dikabarkan telah melakukan PHK sebanyak 1.500 orang karyawannya. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri memanggil perusahaan minyak tersebut.

Jika memang Chevron benar telah melakukan PHK karyawannya, sedikit tak mengejutkan. Pasalnya harga minyak tak juga berada di level yang dinilai aman. Harganya terus turun lantaran kelebihan pasokan. Bahkan beberapa pengamat meramal harga minyak bisa sentuh US$ 20 per barel.

Vice President Policy Government and Public Affairs Chevron Pacific Indonesia,‎ Yanto Sianipar membenarkan perusahaannya sedang melakukan efisiensi. Namun dirinya enggan menyebut langkah yang dilakukan ini merupakan pemutusan hubungan kerja.

"Sebenarnya lebih bagus efisisensi," kata Yanto, saat berbincang dengan Liputan6.com, di Jakarta, Kamis pekan lalu.

Yanto tak mau memberikan informasi lebih lanjut mengenai kabar ribuan karyawan Chevron bakal di-PHK. Dia juga enggan menyebut Chevron telah melakukan perampingan jumlah karyawan.

"Dalam perubahan model bisnis terkait perubahan struktur dan ukuruan organisasi saya tidak bisa menyebut perampingan, ini sedang berjalan prosesnya, kami tidak bisa jauh memberi informasi," terang Yanto.

 

Kondisi sulit di sektor minyak juga terjadi tak hanya di Indonesia. Negara luar terutama penghasil minyak pun berteriak karena kejadian ini. Banyak yang menyebut mereka pun telah memberhentikan banyak karyawannya.

Seperti yang dibilang tadi, harga minyak yang anjlok jadi mimpi buruk bagi para pekerja yang kerja di sektor ini. Bagi yang masih bekerja, ada yang mengatakan istilahnya mereka hanya tinggal menunggu waktu saja. Sejumlah karyawan pun sudah terlebih dahulu di-PHK.

Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara pernah mengungkapkan, di dunia, perusahaan minyak ditaksir sudah mem-PHK ratusan ribu karyawannya.

"Perusahaan minyak maupun industri yang berhubungannya, seperti kontraktor, industri pendukung di seluruh dunia tercatat sudah mem-PHK sekitar 250 ribu orang," katanya Senin pekan lalu.

Kebijakan pengurangan karyawan, kata Marwan, tidak bisa lagi terhindarkan meskipun beberapa perusahaan minyak maupun negara produsen minyak mentah mempunyai dana cadangan hingga ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS). Misalnya Arab Saudi, dan lainnya.

"Tapi tabungan (dana cadangan) itu untuk berapa lama sih mempertahankan operasional dan karyawannya, kan juga ada batasnya. Sedangkan perusahaan minyak maupun kontraktor di Indonesia tidak punya dana cadangan, sehingga jalan satu-satunya PHK," terang Marwan.

(seperti dilansir dari Liputan 6)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...