Dampak Erupsi Bromo Bagi Warga Tengger

Dampak Erupsi Bromo Bagi Warga Tengger

WinNetNews.com - Gunung Bromo kini sedang aktif mengeluarkan erupsi. Akibat peristiwa ini berdampak ke segala aspek kehidupan penduduk sekitar, terutama di sektor pariwisata.

Sepinya kunjungan wisatawan di Gunung Bromo secara otomatis membuat warga tengger yang tinggal di Cemoro Lawang, Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo terpukul.

Para penjual jasa sewa kuda, pedagang souvenir, pedagang kaki lima hingga perhotelan pun ramai-ramai mengalami penurunan pendapatan menyusul penerapan Gunung Bromo ditetapkan status siaga.

Sebelum jalur ke lautan pasir, Bromo ditutup, umumnya warga bisa meraup untung hingga Rp 200 ribu dari hasil penyewaan kuda. Namun saat ini pendapatan mereka menurun, yakni hanya Rp 50 ribu saja.

Tak hanya itu, warga yang menggantungkan hidupnya sebagai petani palawija juga merasa khawatir hasil panennya tidak maksimal akibat debu vulkanik yang disemburkan oleh Bromo.

Menurut mereka, jika hujan abu semakin deras mengguyur desanya, masa paceklik bisa mencapai 9 bulan. Ini yang mereka rasakan pada meletusnya Gunung Bromo di tahun 2010 silam.

Warga menyebut, bantuan pemerintah tidak cukup diandalkan untuk bertahan hidup. Mereka harus merogoh tabungan dan menjual harta benda yang dimiliki guna menyambung hidup.

Warga yang membuka usaha kuliner pun turut merasakan imbas erupsi Gunung Bromo. Omzet mereka turun dari sebelumnya. Namun mereka mengakui bahwa warga Tengger sudah terbiasa menghadapi kondisi ini.

Sementara itu, ketinggian semburan abu vulkanis pagi ini berkisar 1500 meter. Tim dari Badan Geologi Klimatologi dan Geofisika terus memantau serius kondisi Gunung Bromo terkini.

Meskipun sedang dilanda erupsi, warga meyakini nantinya wisatawan tetap akan berdatangan ke Bromo saat malam tahun baru 2016 meskipun ada larangan turun ke lautan pasir.