Dampak Pandemi COVID-19: Buyer Batal Order, 5.000 Buruh PT Victory Cingluh Kena PHK
Para pekerja PT Victory Cingluh Indonesia sangat merasakan dampak pandemi virus corona. (Foto: Analisa Publikl

Dampak Pandemi COVID-19: Buyer Batal Order, 5.000 Buruh PT Victory Cingluh Kena PHK

Selasa, 26 Mei 2020 | 14:59 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Pandemi Covid-19 telah membawa dampak signifikan terhadap industri sepatu. Salah satunya adalah pembatalan permintaan dari buyer atau pembeli terhadap pabrik sepatu lokal di Indonesia.

Dikutip dari laman CNBCIndonesia.com, Selasa (26/5), belum lama PT Victory Chingluh yang memproduksi sepatu kenamaan dunia, Nike dan Adidas melakukan PHK terhadap hampir 5.000 karyawannya. 

Keputusan ini dalam jangka panjang karena akan melakukan relokasi pabrik dari Pasar Kemis Kabupaten Tangerang. Namun, ternyata ada faktor lainnya yaitu pembatalan order dari
para buyer sepatu dunia.

Apakah Nike dan Adidas melakukan pembatalan?

"Di luar merk besar seperti Nike dan Adidas, yakni dengan PO (Pre Order) lain, ada 47% dibatalkan PO-nya," kata Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Eddy Widjanarko.

PT Victory Chingluh Indonesia merupakan perusahaan sepatu global yang berasal dari Taiwan dengan buyer-buyer dari merek ternama seperti Nike, Adidas, Mizuno. 

Mereka memiliki 7 pabrik di China, 3 pabrik di Vietnam termasuk 2 pabrik memproduksi sepatu Nike dan 1 memproduksi Mizuno, selebihnya 2 pabrik di Indonesia memproduksi sepatu Nike sejak 2010 dan Adidas sejak 2008.

Pembatalan order sangat berdampak signifikan terhadap cashflow perusahaan yang sudah cukup terganggu akibat masa pandemi. Sehingga, rencana untuk memproduksi dalam jumlah besar pun harus ikut diturunkan.

Namun, efek lainnya adalah dampak distribusi. Eddy tidak menampik bahwa ada keterlambatan yang terjadi selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Sekarang dari 100% yang kita terima order, itu 71% mengalami keterlambatan pengiriman. Menurut saya angka yang signifikan. Di satu pihak, buyer masih menerima karena mereka memang menurun penjualannya," sebut Eddy.

Sejumlah kendala itu, utamanya pembatalan order sangat berdampak terhadap jalannya cashflow perusahaan. Alhasil, perusahaan pun mengambil langkah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta merumahkan pegawainya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...