Dari Mana Uang Untuk Nuklir Korea Utara?

Dari Mana Uang Untuk Nuklir Korea Utara?

Sabtu, 16 Jan 2016 | 14:46 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Kemiskinan dan perekonomian yang sulit tidak mencegah Korea Utara mengembangkan senjata nuklir yang memakan banyak biaya. Menurut para ahli, Korut menggunakan dana yang sangat minim untuk program nuklirnya dengan mengakali beberapa aspek penting. Pendanaan ini diperoleh dari banyak sumber, termasuk menguras harta rakyatnya sendiri.

Para ahli di pemerintahan Korea Selatan yang dikutip Reuters pada Senin (11/1) memperkirakan Korut keluar dana antara US$1,1 miliar hingga US$3,2 miliar untuk program nuklir mereka. Namun jumlah ini hanya perkiraan, karena program nuklir Korut sangat tertutup.

Kisaran ongkos program nuklir Korut yang disajikan Korsel diragukan. Pasalnya para ahli mengatakan uji nuklir yang dilakukan Korut pekan lalu tergolong kecil dan diduga menggunakan teknologi nuklir yang kurang canggih.

 

Korut mengklaim uji nuklir keempat mereka itu merupakan bom hidrogen yang paling canggih dan kuat yang mereka miliki. Para ahli meragukannya, namun mengutarakan kemungkinan Korut mengambil jalan pintas meningkatkan kekuatan bom atom dengan isotop hidrogen.

Pejabat Korsel yang termasuk dalam diplomasi nuklir dengan Korut mengatakan pada Reuters bahwa Pyongyang kemungkinan memangkas dana program nuklir dengan mengurangi aspek keamanan.

Korea Utara berada dalam ranking terakhir dalam daftar pengeluaran dana untuk senjata nuklir Global Zero, organisasi aktivis anti-senjata nuklir, pada tahun 2011.

Di tahun itu, pengeluaran nuklir Korut diperkirakan hanya US$700 juta, di bawah Pakistan yang merogoh kocek US$2,2 miliar. Sebagai perbandingan, AS mengeluarkan dana hingga US$61,3 miliar untuk senjata nuklir di tahun 2011.

Kementerian Pertahanan Korsel kepada Reuters mengatakan Korut keluar dana US$600-700 juta untuk pembangunan Pusat Penelitian Ilmiah Nuklir Yongbyon. Reaktor kecil di fasilitas ini menggunakan teknologi era-Soviet yang hanya menghasilkan daya 5 megawatt.

 

Kim Min-gyu, mantan diplomat Korsel yang bekerja untuk Kedutaan Korsel di Moskow sebelum membelot tahun 2009 mengatakan pemerintah Pyongyang mempekerjakan orang tanpa dibayar untuk program nuklir, kecuali beberapa ahli penting.

Selain itu, menurut dia, Korut memproduksi semuanya di dalam negeri, untuk menghindari pengeluaran tambahan. Perekonomian Korut hanya US$28,4 miliar di tahun 2014, namun mereka mampu membiayai program nuklir dari berbagai sumber dana.

Bank Sentral Korsel mengatakan Korut memiliki beberapa sumber dana, termasuk dari praktik pemalsuan, penipuan asuransi, penjualan suku cadang rudal ke timur tengah dan terakhir adalah mengirim para pekerja ke luar negeri untuk diperas gajinya.

 

Di Korut juga berkembang perekonomian rakyat melalui perdagangan pribadi yang berkembang sejak kelaparan besar di tahun 1990-an. Orang-orang kaya yang melakukan perdagangan ini kemudian ditarik pajak besar yang merupakan sanksi atau yang dikenal dengan nama "donju". Dari sinilah salah satu sumber dana program nuklir Korut.

"Setelah tiga uji nuklir pertama Korut, donju dilakukan atas dasar tuduhan anti-sosialis dan kekayaan mereka disita negara," ujar sumber di Korut yang dikutip oleh Daily NK, media para pembelot.

Sebagai tambahan, Korut juga menggenjot ekspor mineral mereka, kebanyakan batu bara, ke China, mitra dagang utama. Tahun lalu, dari sektor ini Korut menangguk untung lebih dari US$1 miliar.

Laporan Royal United Services Institute (RUSI) di London menyebutkan bahwa Korut juga menjual persenjataan kecil kepada pembeli dari seluruh dunia.

Basis data Center for North Korean Human Rights, lembaga data Korsel di Seoul mengatakan, Korut mengumpulkan US$200-300 juta per tahun dari gaji para pekerja yang mereka kirim ke luar negeri.

(seperti dilansir dari CNN Indonesia)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...