Data Pribadi Pemakai Facebook Diobral di Pasar Gelap
ilustrasi

Data Pribadi Pemakai Facebook Diobral di Pasar Gelap

Minggu, 25 Mar 2018 | 20:13 | Rusmanto

WinNetNews.com - Data pribadi tak ternilai harganya. Namun, di mata hacker yang mencuri identitas orang, data tersebut dapat menjadi begitu murah, begitu yang terjadi saat data pribadi pengguna Facebook yang dijual di pasar ilegal.

Sebuah riset tentang harga jual akun di pasar dark web memperlihatkan bahwa data satu login pengguna Facebook dibanderol hanya USD 5,20 atau sekitar Rp 71 ribu untuk per akunnya.

Sebagai informasi, dark web adalah sebuah istilah di mana orang berinteraksi memanfaatkan jaringan online khusus untuk kegiatan ilegal. Biasanya situs-situs yang berada di dark web ini dijaga oleh enkripsi tertentu yang memungkinkan orang mengunjungi situs secara anonim.

Fractl, sebuah perusahaan konten marketing, menemukan fakta harga jual data pengguna pribadi layanan internet di dark web. Informasi tersebut terungkap usai mereka mengunduh Tor client atau jaringan anonim di browser agar dapat masuk ke dark web.

Dari tiga pasar dark web terbesar, dikutip Daily Mail, Minggu(24/3/2018), yaitu Dream, Point, dan Wall Street Market, ditemukan harga jual akun Facebook ini lebih murah dari per akunnya PayPal USD 247 (Rp 3,4 juta), USD 15,39 (212 ribu), eBay USD 12,48 (Rp 172 ribu), Amazon USD 9 (Rp 124 ribu), Netflix USD 8,23 (Rp 113 ribu), Uber USD 7 (Rp 96 ribu), dan Airbnb USD 7,87 (Rp 108 ribu).

Akun Facebook ini hanya lebih mahal dari akun Gmail dan Yahoo yang sama-sama dibanderol USD 1 (Rp 13 ribu), dan Spotify USD 0,21 (Rp 2 ribu).

Harga-harga data pribadi di atas adalah untuk bulan Februari 2018 dan edisi pasar dark web di Amerika Serikat. Menurut para ahli, alasan mengapa harga jual data Facebook, Gmail, dan Spotify ini murah karena hacker bisa dengan mudah mendapatkan akun bersangkutan.

Dengan demikian, harga privasi kita di internet bila tidak sadar untuk melindunginya, bisa dipasarkan sangat murah di pasar gelap untuk kepentingan yang justru dapat merugikan di masa mendatang. (detikcom)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...