Demonstran Masih Melawan, Perkakas Dapur Jadi Alat Bertahan

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Demonstran Masih Melawan, Perkakas Dapur Jadi Alat Bertahan Dua bulan bentrok dengan aparat, demonstran Hong Kong terus mencari cara baru untuk menangkis tembakan gas air mata. Kini, mereka menggunakan perkakas dapur. (Foto: Reuters/Edgar Su/CNN Indonesia)

Winnetnews.com - Daya juang tinggi para demonstran Hong Kong menolak kebijakan pemerintah tentang Revisi Undang-Undang (RUU) Ekstradisi hingga kini masih berlangsung. Hingga Kamis (8/8/2019), para demonstran masih melakukan aksinya demi mempertahankan Hong Kong.

Sejak dua bulan lalu, para demonstran tersebut terus melawan tindakan represif aparat yang terus menembakkan gas air mata. Melawan tindakan polisi setempat, para pengunjuk rasa mengakalinya dengan memanfaatkan perkakas dapur sebagai pertahanan diri terhadap perlawanan aparat.

Melansir CNN Indonesia, sejumlah ruas jalan Hong Kong terlihat mengenakan sarung tangan penahan panas yang biasa dipakai untuk mengangkat perangkat dapur. Bersenjata sarung tangan tersebut, mereka tanpa ragu mengangkat tabung gas air mata yang sangat panas dan melemparkannya ke tempat lain.

Demonstran terlihat sudah sangat piawai melakukan aksi tersebut. Kepolisian memang sudah biasa menembakkan gas air mata. Sejak unjuk rasa merebak pada dua bulan lalu, kepolisian dilaporkan sudah menembakkan sekitar 800 gas air mata. Pedemo pun menyebut arena unjuk rasa sebagai "prasmanan gas air mata."

Selain sarung tangan masak, demonstran juga menggunakan masker respirator untuk menangkis tembakan gas air mata. Kini, jagad maya Hong Kong riuh membicarakan rekomendasi masker yang paling ampuh menahan gas air mata.

"Saya benar-benar butuh! Masker-masker yang bagus sudah sangat sulit ditemukan di jalan," tulis seorang warganet Hong Kong di salah satu forum di internet.

Di lapangan, para demonstran juga membantu warga sekitar. Jurnalis AFP, misalnya, melihat ketika seorang pengamat internasional terkena tembakan gas air mata. Pengamat itu panik dan langsung mengusap matanya. Seorang demonstran lantas menghardik, kemudian memberikan masker.

"Masker ini memang tidak terlalu bagus, tapi masih bisa dipakai. Kamu harus selalu membawa ini!" katanya.

Sementara itu, demonstran lainnya tergopoh membawa cone pembatas jalan. Ketika ada tabung gas air mata jatuh di aspal, mereka langsung menutupinya dengan cone tersebut. Mereka membuka sedikit bagian bawah cone dan menyiramkan air ke dalamnya sehingga asap tak terlalu pekat, hingga akhirnya padam.

Analis keamanan dari IHS Jane's, Tony Davis, menganggap para demonstran sudah menguasai teknik pengendalian massa berkat unjuk rasa ini.

"Yang terjadi di Hong Kong membuat demonstran belajar dan mereka kini mulai mengembangkan kemampuan. Mereka mengerti pengorganisasian tentara, yang awalnya tak mereka pahami," ucap Davis.

Kemampuan ini dianggap sangat penting jika demonstrasi benar-benar berlangsung sangat lama dan meningkatkan ketegangan lebih jauh.

Aksi besar-besaran ini sendiri bermula pada dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China.

Apa Reaksi Kamu?