Desakan Bolsonaro Mundur Kian Kuat
Demonstrasi "Stop Bolsonaro" di Brasil. (Foto: Medicina News)

Desakan Bolsonaro Mundur Kian Kuat

Selasa, 30 Jun 2020 | 12:00 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Presiden Brasil, Jair Bolsonaro didesak mundur setelah dinilai tak mampu atasi virus corona yang menginfeksi ratusan ribu orang, ribuan di antaranya meninggal dunia.

Aksi unjuk rasa pun tak terelakkan. Demonstrasi tidak hanya melalui daring saja, namun juga para pendemo di sejumlah ruas jalan kota besar di Brasil mengkampanyekan "Stop Bolsonaro".

Menurut para pendemo yang tak puas ini, Bolsonaro disebut sebagai ancaman bagi demokrasi. Seluruh pendemo dari berbagai penjuru pun terus berorasi menggaungkan kampanye "Stop Bolsonaro".

Aksi unjuk rasa ini merupakan buntut dari pemerintah Brasil yang tak bisa menangani virus corona yang kian menggerogoti nyawa manusia. Terlebih, Brasil masuk dalam salah satu negara berkembang di dunia.

Berdasarkan laporan yang dihimpun Kompas, Selasa (30/6), data terbaru jumlah pasien virus corona di Brasil bertambah di angka 259.105 orang, ribuan di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Brasil pun dicap sebagai wilayah baru penyebaran pandemi virus corona. Negeri tetangga Argentina ini mencatat jumlah positif sebanyak 1,3 juta pasien, sementara 57.622 tewas akibat kasus virus corona yang tak tertangani dengan baik. 

Meski begitu, Brasil masih berada di peringkat kedua setelah Amerika Serikat.  Tak lain dan tak bukan, sikap Bolsonaro diklaim sebagai penyebab mewabahnya virus corona di Brasil. Bolsonaro selalu menganggap enteng flu mematikan ini sebagai "flu ringan".

Tak heran sejak mewabahnya virus corona di Brasil, banyak warga yang mengecam tindakan dan pernyataan Bolsonaro. Bahkan, presiden "sayap kanan" terus membantah sejumlah bukti, padahal sudah jelas banyak nyawa yang dikorbankan.

Pada aksi demonstrasi ini, seribu salib di halaman depan kongres di ibu kota Brasilia dipasang sebagai simbol bentuk penghormatan terhadap jasad korban virus corona. Spanduk "Bolsonaro berhenti menyangkal!" pun nampak menjadi salah satu bagian kampanye desakan mundur oleh rakyat Brasil.

"Brasil menderita rasa sakit yang luar biasa, rasa sakit tersmebunyi yang berdenyut di tengah banyaknya kematian karena Covid-19," tulis penyelenggara.

Para oposisi pun ikut turun ke lapangan untuk melawan petahana. Mereka membawa dan mengibarkan bendera serta spanduk saat aksi unjuk rasa di Sao Paulo.

Sementara itu di pantai ternama di Rio de Janeiro yang terkenal dengan "Patung Yesus", yakni Pantai Copacabana, sejumlah aparat kepolisian lengkap dengan perisai dan tongkat berupaya mengendurkan semangat para pendemo.

"Enyahlah Bolsonaro!" teriak demonstran dari jendela rumah-rumah terhadap polisi yang menjegal 200-an pendemo di jalanan.

Rupanya, aksi "Stop Bolsonaro" ini meluas ke sejumlah negara. Austria, Spanyol, Swiss, hingga Inggris juga turut menyuarakan hal yang sama.

Hal ini dipicu lantaran angka infeksi maupun kematian virus corona di Brasil sangat berbeda antara fakta dengan laporan otoritas setempat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Brasil juga mulai mendeteksi sejumlah Orang Tanpa Gejala (OTG).

Namun, kapasitas tes swab atau rapid malah seperti bumerang bagi Brasil. Rendahnya kapasitas tes Covid-19 justru menjadi ihwal utama Brasil.

Hal kontradiktif pun nampak jelas kala penguncian wilayah atau lockdown di buka oleh jajaran pemerintah daerah di Brasil. Pembukaan kunci wilayah ini diduga sebagai bentuk pemulihan sistem ekonomi rakyat Brasil.

Sao Paulo menjadi negara pertama pembukaan kunci wilayah. Wilayah selanjutnya yaitu Rio de Janeiro, wlayah tersebut sudah kembali ramai oleh aktivitas perekonomian warga. Sejumlah toko telah diizinkan buka, serta pertandingan sepak bola pun direncanakan kembali digelar.

Pemerintah daerah pun mempersilakan para fans atau suporter klub yang bersangkutan untuk datang dan menyaksikan pertandingan sepak bola yang amat populer di Brasil ini.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...