Di Manakah Alamat Allah....?

Dani Gunawan
Dani Gunawan

Di Manakah Alamat Allah....?
WinNetNews.com -  Ada hal yang menarik manakala kita mendengar atau bahkan kita sendiri pernah mengatakan.." Kita serahkan segala sesuatu kepada Yang di atas sana...." maksudnya kita berserah diri kepada Tuhan yang " tinggal" di atas sana....ya...Tuhan yang bertempat tinggal di atas langit...di Kerajaan Langit...makanya jika orang berdoa, tangannya terbuka ke atas dan wajahnya menghadap ke langit...

Terdapat banyak ayat dan hadits yang menerangkan bahwa Allah adalah pemilik Kerajaan Langit dan Bumi...jika kita baca artinya secara logika, berarti Allah bertempat tinggal di sebuah Kerajaan Langit dan mengawasi pemerintahan di atas sana...DIA yang mengatur seluruh kehidupan ini yang di bantu oleh para malaikat yang setia melakukan apapun yang menjadi perintah Nya...

Tapi apakah logika itu benar?

Seberapa jauh lokasi kerajaan Allah berada?

Seperti apa mekanisme pemerintahan Nya?

Apakah kita bisa masuk kedalam nya?

 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah memang benar ada Kerajaan Langit itu? atau mengandung arti lain? Ketika hal ini ditanyakan kepada seseorang yang katanya "ahli" agama, jawaban nya adalah, " Kalau kita beriman maka kita harus percaya bahwa itu ada "....well, menurut pendapat saya, Iman dan percaya itu adalah sesuatu hal yang berbeda. Jika kita beriman, maka secara otomatis kita percaya. Tetapi jika kita hanya percaya, belum tentu kita beriman. Contoh yang nyata kita lihat adalah para anggota dewan yang terhormat yang di sumpah dengan kitab sucinya masing-masing, mereka percaya adanya Allah atau Tuhan, tapi dengan perilaku mereka sekarang ini apakah mereka beriman? Itupun terjadi dengan kita yang setiap hari beribadah karena kita percaya Allah itu ada, tetapi masih saja kita mengingkari perintah Nya....Jadi Iman itu bukanlah percaya...saking tingginya makna kata Iman, sampai akhirnya, para penerjemah kita hanya mampu menyamakan nya dengan kata percaya....padahal makna iman secara luas. Menurut salah satu hadits adalah “...tambatan hati yang menggema kedalam seluruh ucapan dan menjelma kedalam segenap laku perbuatan”. Jadi sekarang kita bisa memahami mengapa banyak orang yang mengaku beriman tetapi berantakan hidup dan perilaku nya...karena Iman nya hanya di mulut saja...bukan dari hati sehingga tidak tercemin Iman nya itu dalam laku dan perbuatannya.

Karena ketidak puasan saya atas jawaban-jawaban yang ada, menjadi titik balik awal mula saya mencari alamat Allah...dorongan untuk mencari alamat Nya semakin hari semaki kuat, karena sebagai seorang hamba sahaya, saya ingin sekali dapat sampai minimal ke gerbang kerajaan Nya lah...bertafakur dan bersujud di depan gerbang tersebut dan dengan penuh harap ada suara lembuat yang memanggil saya untuk masuk ke dalam kerajaan Nya...Masya Allah...

Akhirnya saya mencoba utk mencari tahu sendiri alamat kerjaan langit. Mulai dari belajar Tassawuf, Kebatinan, membaca banyak literatur tentang Allah, membeli dan membaca buku yang sekarang ini entah kemana buku-buku itu, berguru kepada orang-orang hebat dan sakti, bepuasa, wiridan, dan menuntut segala bentuk Ilmu, semua saya lakukan dengan harapan dapat menemukan alamat Allah yang pasti. Dari pencarian itulah saya banyak sekali mendapatkan referensi, bukan hanya mengenai kerajaan Nya, tetapi jauh lebih menggembirakan lagi adalah mulai belajar mengenal pemilik kerjaaan langit....yaitu Allah...ternyata cara termudah mengenal Allah adalah dengan mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu .... Namun saking fokusnya mencari alamat Allah, sampai-sampai teman baik saya bertanya kepada istri saya dengan pertanyaan "apakah masih waras atau tidak" karena saya punya hobby baru ; menasehati orang2 sekitar.....sebetulnya kalau saya boleh membela diri, saat itu saya bukan menasehati, tetapi lebih kepada berbagi rasa, mungkin karena saat itu saya baru saja diberi kenikmatan oleh Allah berupa manisnya "rasa" mengenal diri...jadi setiap saat bertemu orang, hasrat saya untuk berbagi rasa itu tidak dapat saya bendung, sampai akhirnya saya mempunyai hobby baru tersebut....

 

Berdasarkan pengalaman, pada akhirnya saya berkesimpulan jika kita mencari alamat Allah, saya jamin kita tidak akan menemukan nya...mengapa? Mari kita lihat konsep Allah sebagai yang "Akbar", Yang Maha Besar, yang setiap saat takbir kita mengucapkannya...Jika Allah itu Maha Besar, berarti kita, alam semesta ini, kerajan langit dan bumi adalah kecil. Dan jikalau semua kecil,maka semua itu tidak mampu untuk menampung kebesaran Allah, seperti kutu dengan kepala, tidak mungkin kepala bertempat pada kutu, tetapi justru sebaliknya....

Secara sederhananya mari simak pengalaman saya di dalam kereta api...di seberang tempat duduk saya, ada sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahun. Si anak cantik ini terlihat sangat menikmati perjalanannya di dalam kereta yg ditumpanginya...dia dengan riang gembira berdiri diatas tempat duduknya sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kereta yang tertutup rapat dan sesekali menoleh keluar melalui jendela.Tiba saat dimana kereta itu melintasi pintu palang kereta, terdengar dari luar kereta bunyi serene pintu palang....ning nong ning nong...mendadak sontak mata anak itu berbinar sambil tersenyum menyimak bunyi serene itu seraya berteriak kepada ibunya..." Ibu...Ibu...nah...Kereta bu...Kereta bu...." seraya mata nya bolak balik menatap keluar jendela dan ke ibunya...si ibu sambil tersenyum memeluk anaknya sambil berkata..iya nak..ada kereta....

Pada saat kita mencari alamat Allah, maka tidak ubahnya kita sepeti anak kecil cantik tadi memanggil2 kereta padahal dia sedang didalam kereta....Allah tidak memilki alamat, tetapi alamat ada didalam Nya...Alam semesta beserta isinya, kerajaan langit dan bumi berada di dalam genggaman Nya...Allah tidak bertempat..tetapi tempat menempati Nya....Allah meliputi segalanya dan kitab2 suci menjadi mekanisme pemerintahan Nya...jadi selama ini kita sudah tinggal bahkan hidup di dalam kerajaan Nya, Masya Allah....

Untuk itu, mungkin sudah saat nya kita memperbaiki segala amal ibadah kita, bukan hanya di mulut saja seperti orang - orang yg merasa " terhormat " tadi, tetapi menjalankan Ibadah dengan Ilmu...beragamalah karena kita memang memilih untuk menjadikan agama itu sebagai pegangan hidup kita, bukan karena mengikuti orang tua kita, lingkungan kita, pasangan kita apalagi karena partai yg mendukung kita....karena jika hanya mengikuti saja, kita tidak ubahnya seperti berjalan d dalam kegelapan malam tak tentu arah tujuan....jangan kan bertemu Allah, dengan dirinya sendiripun belum ketemu....mari kita jadikan agama itu sebagai kebutuhan..bukan suatu kewajiban...karena kita butuh Allah, bukan sebaliknya...

Perihal Pemulis:

image0

HENDRI SENTOSA

Pelaku Bisnis; Seorang Professional Trainer , Konsultan, Certified Professional HR, Certified trainer Asia dan Certified Hypnotist yang pernah berpetualang dan bermukim di Mekkah, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, sampai Sulawesi; pernah menjadi Country Manager untuk Negara Malaysia, Indonesia, dan Singapura di sebuah perusahaan Internasional; dan Pembantu Pelatih di Organisai Persaudaraan Kejiwaan SUBUD

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});