(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dibalik Kenikmatan Kopi Sebagai Gaya Hidup

Clarissa Alicia
Clarissa Alicia

Dibalik Kenikmatan Kopi Sebagai Gaya Hidup Sumber pribadi.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan di Indonesia karena memiliki peluang pasar yang baik, di dalam negeri maupun di luar negeri. Sejak dulu, kopi sudah dikonsumsi sehari – hari dan sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Dahulu juga kopi dapat ditemukan dengan mudah di warung pinggir jalan. Tradisi minum kopi di Nusantara ini bisa dilakukan di pagi hari, saat waktu senggang di siang hari bahkan hingga malam hari.

Pasalnya, Indonesia adalah salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia sehingga tidak heran banyak masyarakat Indonesia yang menggemarinya. Di Indonesia, usia penikmat kopi hampir tidak pandang usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa bahkan manula, sehingga tidak terhitung jumlahnya. Bagi mereka, kopi adalah konsumsi harian dan merupakan bagian dari makanan dan minuman sehari – hari.

Kopi kini telah menjadi bagian dari gaya hidup, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota – kota besar, seperti Jakarta. Apalagi saat ini, dengan semakin banyaknya kafe yang dikhususkan untuk kopi dan membuat berbagai inovasi dalam pembuatan kopi, tidak heran lahir banyak pecandu kopi di dunia ini. Akibatnya sekarang, masyarakat tidak hanya mengonsumsi kopi hanya karena faktor gemar saja tapi dikarenakan kopi juga sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Kandungan utama kopi yang paling umum diketahui oleh masyarakat adalah kafein. Kafein inilah yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi melebihi batas wajar. Jumlah dosis kafein yang sewajarnya dikonsumsi oleh seseorang berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka. Seorang perempuan direkomendasikan untuk mengonsumsi kafein hanya 200 mg seharinya. Sedangkan seorang pria memiliki batasan yang lebih tinggi yaitu sebanyak 400 mg seharinya.

Dosis normal mengonsumsi kafein yang diperbolehkan dan masih bermanfaat untuk tubuh adalah sekitar 85 – 250 mg kafein, atau sekitar 1 hingga 3 gelas kopi. Mengonsumsi kopi dengan dosis demikian dapat menyebabkan perasaan siaga, mengurangi rasa lelah, dan melancarkan pikiran. Sedangkan mengonsumsi kafein dalam dosis tinggi, atau sekitar 250 hingga 500 mg, dapat menyebabkan kegelisahan, insomnia, dan tremor.

Lebih berbahayanya lagi dalam dosis tinggi, kafein dapat menyebabkan hyperadrenergic syndrome yaitu sebuah sindrom yang mengaktif saraf simpatik yang dapat mengakibatkan sesak nafas, kejang dan ketidakstabilan kardiovaskular. Mengonsumsi kafein dalam dosis tinggi ini belum tentu berefek secara langsung bagi tubuh kita, ada efek jangka pendek dan ada pula efek jangka panjang.

Beberapa gejala yang dapat dirasakan sebagai efek jangka pendek adalah jantung berdebar-debar, frekuensi nafas menjadi lebih cepat, sakit kepala, gelisah, sulit berkonsentrasi, dan juga tremor. Sedangkan untuk efek jangka panjang adalah hipertensi, gerd (regurgitasi asam lambung), pendarahan pada lambung, merusak otot-otot jantung, merusak pembuluh darah, dan meningkatkan kemungkinan terkena osteoporosis. Hal ini disebabkan kopi dapat menginduksi substansi-substansi dalam tubuh yang nantinya dapat mengaktifkan saraf simpatis, saraf yang aktif ketika tubuh sedang dalam keadaan tertekan. Keadaan inilah yang secara lambat laun akan merusak sel-sel di dalam tubuh.

Jika dalam sehari jumlah kopi yang dikonsumsi sudah melebihi batas yang dapat diterima oleh tubuh, maka orang yang mengonsumsi tersebut dapat mengalami keracunan yang lebih dikenal dengan istilah coffee intoxication atau keracunan kafein. Keracunan kafein ini akan mengakibatkan gangguan pada sistem saraf pusat, gangguan pada sistem jantung dan peredaran darah, gangguan pada pencernaan, serta dapat juga mengakibatkan kematian.

Pada tahun 2014, di Jepang, seorang laki-laki berusia 20 mengonsumsi minuman berkafein setiap hari dalam rentang waktu yang cukup lama. Akibatnya, suatu hari ia ditemukan meninggal karena keracunan kafein. Pada tahun 2017, di Amerika Serikat, seorang anak berusia 16 tahun bernama Allen Cripe meninggal di sekolahnya setelah mengonsumsi minuman berkafein tinggi dalam waktu dua jam. Korban diketahui telah mengonsumsi latte dari McDonald's, serta minuman energi yang diketahui berkafein tinggi.

Kedua contoh di atas memperlihatkan bahwa kafein dapat menyebabkan kematian jika dikonsumsi intens dalam kurun waktu yang berdekatan. Ketika kafein dikonsumsi, zat tersebut akan diserap ke dalam darah dan jaringan lainnya hanya dalam waktu 45 menit setelah dikonsumsi. Namun, efeknya akan bertahan hingga di atas lima jam.

Dalam kurun waktu tersebut, hanya sekitar 50 % kafein yang dapat dikeluarkan tubuh. Sehingga jika dalam waktu 1 atau 2 jam seseorang mengonsumsi beberapa minuman berkafein sekaligus, otomatis jumlah kafein dalam tubuh menjadi banyak. Hal ini lah yang menyebabkan seseorang mengalami keracunan kafein.

Jadi, masih mau minum kopi dalam jumlah banyak sehari-hari? Ayo mulai hidup sehat dengan mengurangi konsumsi kopi harian Anda!

 

Apa Reaksi Kamu?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});