Dingo, Anjing Penjaga Puncak Carstensz

Dingo, Anjing Penjaga Puncak Carstensz istimewa

WinNetNews.com - Para peneliti dihebohkan dengan penemuan anjing dingo di Papua. Namun bagi suku Moni, salah satu suku di Papua, anjing ini merupakan penjaga Puncak Carstensz.

Para peneliti menemukan spesies anjing baru yang hidup di kawasan Grasberg, di Tembagapura, Mimika, Papua. Anjing yang serupa serigala itu tidak dapat menggonggong, hanya mengeluarkan suara teriakan panjang atau melolong.

"Memiliki ciri-ciri mirip dingo di Benua Australia. Karena belum memiliki nama ilmiah, kami kemudian menyebutnya 'Singing Dog'," kata peneliti dari Universitas Cenderawasih Papua, Hendra Kurniawan Maury, Rabu (10/10/2018).

Hingga kini beberapa peneliti dari dalam dan luar negeri sedang mencoba meneliti dingo lebih dekat. Namun nyatanya, soal dingo di Papua ini sudah diketahui oleh suku Moni sejak zaman dulu.

image0

Adalah Maximus Tipagau, salah seorang tokoh dari suku Moni yang menjelaskan tentang dingo. Suku Moni sendiri mendiami kawasan Ugimba, Kabupaten Intan Jaya. Mereka hidup di sekitar Pegunungan Jayawijaya, tepatnya di sekitar Puncak Carstensz dan dekat dari kawasan Grasberg. Puncak Carstensz adalah puncak tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 4.884 mdpl.

"Dingo ini adalah anjing penjaga Carstensz," kata Maximus mengawali perbincangan kepada detikTravel, Kamis (11/10/2018).

"Jika ada orang jahat, dingo akan berubah menjadi manusia berupa laki-laki yang gagah dan memakan jantungnya," tambahnya.

Cerita tentang dingo sudah turun-menurun didengar oleh orang-orang suku Moni. Bahkan menurut mereka, dingo adalah tuan tanah di Puncak Carstensz dan sekitarnya.

"Mereka yang punya wilayah, mereka tuan tanah. Dari jauh, mereka bisa tahu mana orang jahat dan mana orang baik. Dingo juga bisa bernyanyi, suaranya bagus sekali," ujar Maximus.

Menurut Maximus, dingo hidup secara bebas di alam. Tidak bisa dipelihara dan begitu dihormati oleh suku Moni. Oleh sebab itu, dingo sulit ditemui tapi justru mudah ditemui oleh suku Moni.

"Kalau orang biasa mau lihat dingo, itu susah. Tapi kami orang Moni bisa melihatnya, bahkan bisa mendekat nanti kita beri makan. Kepercayaan kami tentang dingo ini sudah dari zaman dulu," tutup Maximus. (detikcom)