Dirut Ungkap Borok Investasi Manajemen Lama Jiwasraya
Manajemen lama Jiwasraya dibongkar bobroknya oleh Direktur Utama (Dirut) Hexana Tri Sasongko. [Foto: Republika.co.id]

Dirut Ungkap Borok Investasi Manajemen Lama Jiwasraya

Senin, 30 Des 2019 | 15:30 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko menyatakan model pemilihan investasi yang dilakukan oleh manajemen sebelumnya menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi keuangan perusahaan.

Pasalnya, dalam mengejar untung selangit, manajemen terdahulu banyak menginvestasikan dana di aset berisiko tinggi (high risk). Hal itu bisa dilihat dari total aset yang diinvestasikan oleh manajemen lama.

Seperti diberitakan CNNIndonesia.com, Hexana mencatat 22,4 persen dari total aset ditempatkan di saham bervaluasi rendah (undervalue) dan hanya 5 persen ada di saham LQ-45.

Kemudian, sebanyak 59,1 persen diinvestasikan di reksa dana saham. Hexana bilang mayoritas reksa dana dikelola perusahaan manajer investasi berkinerja buruk. Hanya 2 persen dana yang diinvestasikan di rekasa dana dan saham dikelola perusahaan manajer investasi berkualitas.

"Jiwasraya banyak melakukan investasi pada high risk asset untuk mengejar high return," ucap Hexana, dikutip Senin (30/12).

Hexana memaparkan untuk saham, beberapa portofolio yang dimiliki Jiwasraya, antara lain PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR), PT SMR Utama Tbk (SMRU), PT PP Properti Tbk (PPRO), dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Kalau dilihat, rata-rata harga keempat saham itu bergerak merah beberapa waktu terakhir. Mengutip RTI Infokom, harga saham Semen Baturaja sejak awal tahun hingga perdagangan terakhir hari ini (year to date/ytd) anjlok 74,6 persen.

Namun, harga saham terlihat menguat dalam satu bulan terakhir sebesar 12,38 persen dan sesi I hari ini naik 2,7 persen di level Rp456 per saham.

Sementara, harga saham SMR Utama terpantau melorot hingga 92,31 persen secara ytd. Harganya tak kunjung membaik atau hanya bergerak stagnan di level Rp50 per saham.

Hal yang sama terjadi di PP Properti, di mana harga sahamnya secara ytd turun 43,59 persen. Koreksi berlanjut, di mana dalam satu bulan terakhir tercatat turun sebesar 4,35 persen, dan membaik pada sesi I ini dengan penguatan tipis 1,52 persen di level Rp67 per saham.

Begitu juga dengan saham Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten yang terus merah hingga akhir perdagangan sesi I hari ini. Tercatat, harga sahamnya secara ytd terkoreksi 40,98 persen, satu bulan terakhir turun 22,44 persen, dan sesi I 3,2 persen.

Di samping itu, Hexana menjabarkan beberapa kepemilikan saham yang dibeli secara tidak langsung atau lewat instrumen reksa dana berada di saham bervaluasi rendah. Sebagai contoh, PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk (POLA), dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM).

Mengutip laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan saham Eureka Prima dan Pool Advista sedang diberhentikan sementara (disuspensi). Eureka Prima terkena suspensi sejak 2 Mei 2019 dan Pool Advista disuspensi pada 27 Desember 2019.

Sisanya, seperti saham Graha Andrasentra dan Trada Alam sama-sama bergerak stagnan pada sesi I hari ini. Lebih detail, saham Graha Andrasentra sudah stagnan sejak awal tahun, sedangkan Trada Alam tercatat merosot hingga 70,59 persen secara ytd.

Untuk Prima Cakrawala sendiri, harga sahamnya terus merosot sejak Januari 2019. Terpantau, secara ytd sahamnya melemah 75,79 persen, satu bulan terakhir 11,9 persen, dan sesi I ini turun 0,38 persen di level Rp1.295 per saham.

Hexana bilang langkah sembrono tersebut dilakukan manajemen lama karena perusahaan tak memiliki aturan ketat mengenai jumlah maksimal investasi yang bisa dimasukkan ke instrumen berisiko. Makanya mayoritas aset finansial Jiwasraya kini sulit dijual karena harganya turun.

"Dengan kondisi pasar saat ini, mayoritas aset investasi tidak liquid," terang Hexana.

Tak heran, karena langkah manajemen lama tersebut Jiwasraya 'buntung'. Hexana bilang portofolio sahamnya turun dari Rp5,6 triliun menjadi Rp1,5 triliun dan reksa dana berbasis saham turun dari Rp12,7 triliun menjadi tinggal Rp4 triliun. [cnn]

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...