Diserang Pandemi Covid-19, China Minim Vaksin Rabies
Ilustrasi. (Foto: Xinhua)

Diserang Pandemi Covid-19, China Minim Vaksin Rabies

Kamis, 30 Jul 2020 | 13:15 | Khalied Malvino

Winnetnews.com -  Rumah sakit di beberapa provinsi di China dilaporkan mengalami kekurangan pasokan vaksin rabies dalam beberapa bulan terakhir akibat wabah virus corona.
 
Dilansir dari Global Times, secara bersamaan China menghadapi lonjakan kasus warga yang terluka oleh serangan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
 
Pada Senin (27/7), Rumah Sakit No 5 Shijiazhuang di Provinsi Hebei mengonfirmasi kepada Global Times bahwa rumah sakit mengalami kekurangan vaksin rabies pada Mei dan Juni. Hal itu dikarenakan produsen vaksin menghentikan produksi pada Januari dan Februari akibat wabah Covid-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Jinan, Provinsi Shandong, memberikan keterangan yang sama. Mereka menambahkan, kurangnya pasokan vaksin bersifat nasional dan "mungkin akan bertahan lebih lama".
 
Menurut beberapa analis industri, sistem pengawasan vaksin yang lebih ketat menjadi alasan lain dari kurangnya pasokan karena beberapa produsen utama telah ditangguhkan setelah skandal cacat produksi vaksin rabies yang diproduksi oleh Changchun Changsheng Life Sciences pada 2018.
 
"Faktor-faktor ini mempengaruhi produksi vaksin rabies karena ada penurunan pasokan pada Januari dan Februari. Namun, kesenjangan itu cepat mereda setelah produksi (mulai) pulih sejak Maret," kata ahli vaksin yang berbasis di Shanghai, Tao Lina, kepada Global Times, mengutip CNN Indonesia, Kamis (30/7).

Dia berusaha meredakan kekhawatiran masyarakat. Menurut Tao, ada kemungkinan lain dari meningkatnya permintaan vaksin.
 
"Karena semua orang tinggal di rumah selama epidemi, (mereka) menghabiskan lebih banyak waktu dengan hewan peliharaan dan ada peningkatan (kasus) serangan hewan peliharaan pada manusia," ujar Tao.
 
Tao menyerukan manajemen hewan peliharaan yang lebih ketat dan memperluas vaksinasi hewan peliharaan untuk melindungi manusia dari rabies.
 
Sementara itu salah satu produsen vaksin, Liaoning Chengda Co, Ltd, mengatakan kepada situs berita keuangan China, eeo.com.cn mereka mulai memulihkan produksi vaksin pada 2 Maret dan telah menghasilkan 800 ribu dosis per bulan dari Januari hingga Juni.
 
Rabies menjadi penyakit menular penyebab kematian kelima terbesar di China setelah AIDS, TBC, Hepatitis A dan B.
 
Pada 2019, 276 orang meninggal karena rabies di China. Statistik menunjukkan, pada 2019 jumlah kucing dan anjing peliharaan di China mencapai 99,15 juta, angka ini naik 8,4 persen dari tahun ke tahun.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...