Dua Kota Ini Kebanjiran Janda!
Suasana sidang di Pengadilan Agama/Foto: Zool WNN

Dua Kota Ini Kebanjiran Janda!

Jumat, 21 Jul 2017 | 23:21 | Zulkarnain Harahap

WinNetNews.com - Dalam waktu enam bulan, sudah ada 1.453 perkara perceraian yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Semarang. Saat ini masih dalam proses sidang. Sedangkan yang berhasil diputus sebanyak 1.626 perkara (akumulasi dari tahun lalu). Hasilnya, stok janda di Kota Semarang jadi melimpah.

“Rata-rata ada 150 lebih perkara cerai yang masuk dalam sebulan. Bahkan Juni kemarin yang sudah masuk 203 perkara. Untuk Juli, masih dihitung,” kata Humas PA Semarang, M. Syukri kepada wartawan, Jumat (21/07/2017).

M Syukri mengatakan dari berbagai persoalan itu, kebanyakan persoalan yang sering muncul adalah masalah ekonomi. Bahkan rata-rata pasangan suami istri yang memutuskan perceraian masih tergolong muda, karena baru berusia 20 tahun hingga 40 tahun.

"Dari data tersebut, 70 persen gugatan cerai diajukan oleh pihak perempuan. Kebanyakan masalah ekonomi," ujarnya.

Seorang pengacara yang pernah menangani perceraian, Muhammad Dasuki mengaku prihatin dengan adanya perceraian. Ia sendiri saat ini sedang menangani klien yang akan bercerai karena hubungan sudah tidak harmonis, disebabkan jarak yang jauh.

"Kasusnya yang pria bekerja di satu kota, yang perempuan bekerja di kota lain. Mereka jarang bertemu, akhirnya hubungan mereka retak. Kemudian sepakat bercerai," sebutnya.

Sementara itu, Pengadilan Agama (PA) Ciamis mencatat dari bulan Januari sampai Juni 2017 sebanyak 2.054 perkara perceraian sudah masuk dalam rekapitulasi. Angka tersebut terbilang cukup tinggi bila dibanding dengan tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2016, tercatat hanya sekitar 3 ribu kasus perceraian di Kabupaten Ciamis. Sementara untuk tahun ini, baru di pertengahan tahun saja, sudah menembus angka 2 ribu kasus perceraian.

Humas PA Ciamis Ahmad Sanusi membenarkan bahwa kasus perceraian di Kabupaten Ciamis pada tahun ini menunjukan grafik peningkatan apabila dibanding tahun sebelumnya. “Tahun kemarin hanya 3 ribu kasus, tetapi sekarang baru pertengahan tahun saja sudah tembus angka 2 ribu kasus. Memang dari catatan kami terjadi peningkatan yang cukup tinggi,” ujarnya.

Sanusi menjelaskan, penyebab perceraian di Kabupaten Ciamis rata-rata karena tidak adanya tanggung jawab dari pihak laki-laki dalam sisi ekonomi. Yakni untuk memenuhi kebutuhan atau menafkahi keluarga.

Disamping itu, Sanusi mengungkapkan, kasus perceraian di Kabupaten Ciamis juga mayoritas terjadi karena persoalan kurang harmonisnya hubungan kedua belah pihak, salah satunya dipicu oleh minimnya komunikasi suami maupun istri. “Salah satunya memang minimnya komunikasi, dikarenakan istri ataupun suami mempunyai kesibukan masing-masing. Kondisi ini mulai menujukkan tanda-tanda keretakan rumah tangga,” tuturnya.

Menurut Sanusi, minimnya komunikasi antara seorang istri dan suami, hubungan dalam rumah tangga jadi kurang harmonis, sehingga menjadikan rasa percaya semakin terkikis. Selain faktor itu, tidak adanya tanggung jawab perekonomian juga menjadi penyebab perceraian kedua di Ciamis.

“Kemudian yang ketiga adanya pihak ketiga dalam hubungan rumah tangga yang dilakukan salah satu atau keduanya. Saat kedua belah pihak berjauhan, keduanya memiliki peluang yang sama untuk berselingkuh,” tandasnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...