Ecobrick, Solusi Kurangi Sampah Plastik
via waste-ed.co.za

Ecobrick, Solusi Kurangi Sampah Plastik

Rabu, 18 Des 2019 | 15:50 | Amelia Adhiswara

Winnetnews.com - Plastik menjadi salah satu komponen penting dalam kehidupan masyarakat di era modern ini. Harganya yang murah dan ringan untuk dibawa menjadi alasan mengapa banyak orang yang lebih memilih menggunakan plastik daripada bahan material lain seperti kayu, bambu, dan sebagainya.

Namun sayangnya, plastik juga memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan dan makhluk hidup karena plastik memiliki sifat yang sulit terurai dan membutuhkan waktu hingga ribuan tahun untuk dapat terurai. 

Membakar plastik bisa menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi sampah plastik tetapi dampak yang ditimbulkan adalah polusi udara. Selain itu, lelehan plastik yang dihasilkan akan berubah menjadi mikroplastik. Mikroplastik adalah partikel – partikel yang berasal dari plastik yang berbahaya bagi lingkungan dan juga bagi makhluk hidup apabila tertelan.

Indonesia sendiri memiliki predikat negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah Tiongkok. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sampah plastik di negeri ini mencapai 64 juta ton pertahun dan 3 juta ton di antaranya masuk ke laut dan sungai. 

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah khususnya Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) untuk mengurangi sampah plastik.

“Kita memiliki target untuk pengurangan sampah khususnya sampah plastik yang kita turunkan dari Perpres No. 97 Tahun 2017. Kita juga memiliki target untuk mengurangi sampah untuk tahun 2025 itu sebesar 30% dan mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70% yang juga ditetapkan dalam Perpres No. 83 Tahun 2018. Berbagai upaya memang kita lakukan untuk mengurangi sampah, mulai dari pembatasan, mendaur ulang sampah,” ujar Novrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat diwawancarai pada salah satu media di Indonesia.

Namun, peran pemerintah saja tidak cukup untuk menanggulangi sampah plastik yang semakin menggunung dari tahun ke tahun. Sebagai masyarakat pun kita harus bijak dalam penggunaan sampah plastik. Selain itu, kita dapat menggunakan kemampuan berkreasi kita untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi suatu benda yang berguna dan bernilai jual.

“Sampah adalah sumber daya bagi kita semua. Sampah dapat meningkatkan perekonomian, bukan hanya pribadi (pengurus – pengurusnya) tetapi juga nasabah – nasabahnya,” tutur Saharuddin Ridwan, pendiri salah satu bank sampah di Makassar, dalam wawancaranya dengan salah satu media Indonesia.

Salah satu cara untuk mendaur ulang sampah adalah dengan mengubah sampah plastik, terutama botol plastik menjadi ecobrick. Pembuatan ecobrick pertama kali dicetuskan oleh seorang seniman yang berasal dari Kanada, Russell Maier.

Ecobrick adalah bata yang ramah lingkungan, terbuat dari botol plastik yang diisi dengan sampah – sampah plastik yang sulit terurai dan dipadatkan. 

Selain itu, ecobrick juga menjadi pilihan untuk mengurangi sampah plastik karena kita tidak perlu membakarnya, cukup dimasukan kedalam botol plastik dan sampah plastik akan terjaga di dalamnya. 

Manfaat ecobrick antara lain adalah dapat digunakan untuk fondasi bangunan karena sifatnya yang kuat, padat, dan tahan air sehingga dapat menjadi alternatif untuk mengganti bata yang biasa digunakan, untuk menghias taman, dijadikan meja, tempat duduk, dan masih banyak fungsi lainnya.

“Untuk bikin satu ecobrick lumayan makan waktu karena bisa sampai satu bulan. Isi ecobrick juga harus limbah plastik seperti styrofoam, kantong kresek, apapun bentuk limbah plastik supaya bisa padat dalamnya,” ucap Dea yang menjadi salah satu koordinator bank sampah Kertabumi Klinik Sampah. Dea juga menambahkan bahwa ecobrick apabila dijadikan fondasi bangunan dapat bertahan hingga bertahun – tahun.

Walaupun terlihat mudah, pembuatan ecobrick juga harus memperhatikan beberapa hal seperti, jenis sampah apa saja yang bisa dipakai, botol plastik harus dalam keadaan kering dan bersih supaya bakteri tidak tumbuh di dalamnya, dan pengisiannya pun harus benar benar padat.

Langkah pertama untuk membuat ecobrick adalah dengan menyiapkan limbah plastik yang sulit diurai seperti kemasan mie instan, kemasan minuman sachet, sedotan plastik, kantong plastik dan styrofoam. Guntinglah limbah plastik tersebut menjadi bagian – bagian kecil sehingga memudahkan kita untuk memasukkannya ke dalam botol.

Langkah kedua, siapkan botol plastik berukuran 600ml yang sudah bersih dan kering dan tongkat kayu kecil.

Langkah terakhir yaitu masukan limbah plastik yang sudah digunting tadi ke dalam botol dan dengan tongkat kayu tersebut dorong limbah plastik hingga menjadi padat. Ulangi langkah ini sampai botol terisi penuh dan padat karena ecobrick akan sangat bagus untuk digunakan apabila tidak kempes dan berbunyi saat ditekan. Berat standar ecobrick berukuran 600 ml adalah 200 gram.

Setelah selesai, ecobrick dapat langsung digunakan sesuai kebutuhan. Adanya ecobrick menjadi solusi baru dalam menanggulangi sampah plastik agar tidak langsung menuju pembuangan akhir.

***

 

Amelia Adhiswara adalah mahasiswi London School of Public Relations Bekasi. Amelia sedang menjalankan sebuah kampanye tentang lingkungan hidup yang berfokus pada masalah sampah plastik.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...