Efek Diubahnya Satuan Lot Oleh BEI

Oky
Oky

Efek Diubahnya Satuan Lot Oleh BEI Sumber foto : Istimewa

Winnetnews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengubah jumlah banyaknya saham dalam satu lot. Rencananya, otoritas pasar modal akan menurunkan jumlah lembar saham di mana saat ini satu lot sebanyak 100 lembar saham.

Sejauh ini, bursa masih melakukan kajian untuk menentukan angka pasti terkait dengan besaran lot yang akan diterapkan ke depan. Namun, yang pasti kisarannya adalah 50 lembar saham hingga 20 lembar saham per lot.

"Sekarang kami sedang review, kemungkinan belum tahun ini penerapannya. Ini tujuannya untuk menjangkau investor kecil," kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo, akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, tujuan utama dari rencana ini adalah untuk meningkatkan investor terutama kelas menengah ke bawah. Dengan diturunkannya jumlah saham per lot, maka peluang investor ritel untuk masuk ke pasar modal lebih besar.

Selain itu, perubahan ini diyakini akan membantu peningkatan kapitalisasi pasar alias market cap pasar modal Indonesia. Laksono menargetkan peningkatan market cap sebesar 15%-20% per tahun.

Bursa menargetkan, dalam waktu tiga tahun ke depan market cap BEI mencapai Rp10.000 triliun.

Adapun, berdasarkan data pasar modal per akhir pekan lalu total kapitalisasi pasar tercatat senilai Rp6.511,73 triliun

"Misalnya orang punya Rp5 juta kalau menggunakan 100 lembar akan lebih sedikit dapatnya dibandingkan misalnya 50 lembar. Ini akan membantu market cap naik tentunya selain juga minat perusahaan untuk listing ," jelasnya.

Kebijakan mengubah lot saham tidak hanya dilakukan saat ini. Pada 2014 silam, BEI juga melakukan perubahan satuan lot saham dari 500 lembar menjadi 100 lembar. Dengan perubahan satuan lot saham itu maka maksimum volume order di paar reguler dan pasar tunai berubah dari 10 ribu lot menjadi 50 ribu lot.

Rencananya penerapan satuan perdagangan yang baru ini akan diterapkan tahun depan setelah percepatan penyelesaian transaksi bursa (settlement) dari T+3 menjadi T+2 selesai diimplementasikan pada akhir tahun ini.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Muhamad Alfatih menilai, rencana tersebut bagus untuk meningkatkan minat investor kecil. Namun, dia mengingatkan perihal kemampuan sistem teknologi bursa untuk menangani perdagangan yang meningkat.

"Bursa memang sudah meningkatkan kapasitas sistemnya. Mudah-mudahan kekuatannya sudah mampu untuk menangani perdagangan yang akan tinggi," harapnya.

Kata dia, kebijakan ini kerapkali diterapkan oleh pasar modal di negara lain. Bahkan, di Amerka Serikat perdagangan saham tidak menggunakan sistem lot melainkan langsung per lembar saham, sehingga peran ritel cukup besar.

Sementara itu, Analis PT Narada Aset Manajemen Kiswoyo Adi Joe menilai rencana ini seolah seperti stock split paksa kepada para emiten.

Dia berharap, dengan adanya penurunan satuan lot maka investor ritel bisa membeli saham-saham blue chip .

"Dengan ini harapannya saham blue chip bisa masuk lebih terjangkauke ritel. Artinya keterjangkauan investor ritel bisa lebih meningkat."

Adapun dari sisi emiten, menurut Kiswoyo kemungkinan besar siap untuk patuh karena tidak memerlukan persiapan apapun.

Apa Reaksi Kamu?