Skip to main content

Eksekusi Mati ini Meleset, Akhirnya Tragis & Mengerikan Part 2

Eksekusi Mati ini Meleset, Akhirnya Tragis & Mengerikan Part 2

winnetenews.com - (part 2) Di beberapa bagian dunia, hukuman mati sudah tidak dijalankan lagi dengan karena alasan pelanggaran HAM. Namun demikian, masih cukup banyak negara yang menjalankan hukuman mati.

Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, hukuman mati masih diberlakukan di beberapa negara bagian.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan kesadaran akan pelaksanaan hukuman mati yang tidak menyiksa, sekarang ini telah dikembangkan beberapa cara hukuman mati yang diharapkan mengurangi penderitaan saat-saat akhir pada terhukum.

Tapi, seperti dikutip dari Oddee pada Kamis (20/4/2017), masih ada saja kesalahan dan kelalaian dalam pelaksanaan hukuman mati sehingga terhukum malah merasakan kesakitan ataupun tersiksa secara luar biasa sesaat sebelum ajal menjemput.

Alasannya bisa bermacam-macam, termasuk petugas hukuman mati yang mabuk ketika bertugas sehingga aliran listrik pada kursi mau gagal tuntas mencabut nyawa, ataupun beberapa alasan lain seperti berikut ini:

5. Hukuman Mati Selama 2 Jam

Pelaksanaan hukuman mati bagi terhukum Joseph R. Wood III di Arizona berlangsung selama hampir 2 jam. Menurut pada saksi, terhukum megap-megap dan mengorok selama masa itu sebelum akhirnya meninggal.

Wood dihukum mati di kompleks penjara Arizona State dalam proses yang tidak lazimnya sepanjang itu. Ia dinyatakan pingsan seluruhnnya pada 1.57 siang dan baru diumumkan meninggal pada 3.49 sore, hampir 2 jam setelah tim medis pertama kalinya menyuntikan obat-obatan hukuman mati.

Para pengacaranya meminta pemberian suntikan zat pembunuh karena terhukum terlihat masih sadar 1 jam sesudah proses dimulai. Bibirnya mulai bergerak dan "berjuang untuk bernafas" sesaat setelah ia dianggap telah pingsan. Petugas negara bagian membantah laporan itu dan menyebut Wood tidak pernah kesakitan, walaupun memang mengorok.

Wood dijatuhi hukuman mati pada 1991 karena menembak mati mantan kekasihnya, Debra Dietz, dan ayah wanita itu, Eugene.

6. Terhukum Disuntik Bahan Pengawet

Pada 2015, pihak Oklahoma Corrections Department menggunakan obat yang salah untuk menghentikan detak jantung terhukum mati. Mereka seharusnya menggunakan potasium klorida untuk menghentikan jantung Charles Frederick Warner, tapi malah menyuntikan potasium asetat.

Potasium asetat dipakai dalam pengawetan jenasah, mumifikasi, dan pembalseman, demikian menurut harian Oklahoman's yang menyelidiki laporan otopsi terhukum.

Pada saat pelaksanaan hukuman mati, 15 Januari, terpidana pemerkosa dan pembunuh anak itu memerlukan 18 menit hingga akhirnya meninggal dunia. Katanya, "Terasa seperti asam. Tubuh saya terbakar."

Namun begitu, seorang wartawan yang hadir saat itu mengatakan sepertinya terhukum tidak merasa sakit dan tidak pernah mendongakkan kepalanya dan tidak kejang-kejang seperti yang dialami terhukum sebelumnya.

7. Letusan Nadi

Seorang terhukum mati terkena serangan jantung setelah pelaksana hukuman mati merobek nadinya saat pelaksaan suntikan mati. Pada 2014 di Oklahoma, Clayton Darrell Lockett yang berusia 38 tahun mendapat suntikan IV pada bagian selangkangan saat mulainya pemompaan campuran 3 zat pembunuh ke dalam tubuhnya.

Tapi nadinya meletus sehingga terhukum mengerang dan menggeliat selama 15 menit setelah mulainya hukuman. Petugas terpaksa menghentikan proses itu, tapi terhukum kemudian meninggal 43 menit setelah mulainya eksekusi.

Pihak negara bagian kemudian menunda pelaksaan hukuman mati bagi terhukum berikutnya pada hari itu. Presiden Obama juga meminta Jaksa Agung untuk mengkaji prosedurnya.

Bagi teman dan kerabat Stephanie Neiman (19) yang menjadi korban kejahatan terhukum, mereka tidak peduli pada caranya terhukum mendapatkan ajal. Kata April Sewell, seorang teman korban, "Siapa peduli kalau dia kesakitan. Sejujurnya, caranya tewas masih lebih mudah dibandingkan dengan kematian korbannya."

8. Bangun Saat Eksekusi

Pada 2016, seorang terhukum mati bernama Ronald Bert Smith, Jr. menjalani hukuman mati menggunakan suntikan maut karena telah menembak kasir toko bernama Casey Wilson dalam perampokan pada 1994. Jaksa penuntut menjelaskan peristiwa itu sebagai pembunuhan bergaya pembantaian.

Selama 13 menit setelah dibuat pingsan, Smith masih batuk, terengah-engah, dan bergerak. Ia berkali-kali mengangkat dadanya selama proses eksekusi 30 menit. Ia pun seperti sedikit mengangkat dua lengannya setelah dua pemeriksaan untuk menentukan kesiumannya.

Tim kuasa hukum Smith mengatakan bahwa gerakan-gerakan itu menunjukkan "ia belum terbius sama sekali selama prosedur yang terlalu panjang tersebut."

Tapi Jeff Dunn, Corrections Commissioner untuk negara bagian Alabama, membantah Smith kesakitan. Hingga sekarang, penyidikan masalah itu masih berlangsung.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top