Epidemiolog Sebut DKI Belum Siap Menuju New Normal
Foto: Kompas.com

Epidemiolog Sebut DKI Belum Siap Menuju New Normal

Rabu, 3 Jun 2020 | 12:38 | Anggara Putra Utama

Winnetnews.com -  Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan DKI Jakarta belum di waktu yang tepat untuk memberlakukan new normal atau normal baru. Menurutnya, pelonggaran kebijakan embatasan sosial berskala besar atau PSBB dapat dilakukan saat penularan virus corona telah turun secara stabil.

"Pelonggaran bisa dilakukan kalau kasus baru sudah 10-20 kasus per hari selama sepekan," kata Tri, seperti dikutip dari Tempo.co.

Ia menambahkan, pemerintah belum bisa melonggarkan pembatasan untuk menyiapkan masa transisi menuju new normal karena penularan atau jumlah kasus baru masih berfluktuasi di angka ratusan.

"Kalau ada kenaikan sampai 60 kasus per hari saja itu belum bisa dikatakan terkontrol," kata dia. Tri menuturkan penerapan kenormalan baru bisa dilakukan jika pemerintah berhasil mengontrol wabah ini.

"Saat wabah naik, dan mengalami penurunan yang konsisten minimal bertahan satu pekan itu baru bisa disebut wabah sudah terkontrol."

Ia beranggapan, apabila pemerintah ingin menyiapkan masa transis di tengah pandemi yang belum terkontrol. harus melakukan isolasi kasus yang ditemukan. Selain itu, pemerintah juga bisa tetap melakukan pembatasan secara parsial di wilayah yang masih tinggi penularannya.

Selain itu, pemerintah juga harus bertanggung jawab jika penularan semakin tinggi saat melakukan pelonggaran kebijakan pembatasan ini. Jika saat pelonggaran ada kenaikan sampai dua kali lipat dari kasus harian sebelumnya, maka pemerintah harus segera melakukan kembali pembatasan.

"Kalau terjadi peningkatan dua kali lipat saat pelonggaran itu namanya sudah terjadi outbreak atau wabah kembali. Jadi harus siap isolasi lagi," ujarnya. "Ini yang harus diantisipasi saat mengambil kebijakan pelonggaran saat wabah belum terkontrol."

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...