Facebook Akan Ditinggalkan <em>Chief Security Officer</em>-nya
ilustrasi

Facebook Akan Ditinggalkan <em>Chief Security Officer</em>-nya

Rabu, 21 Mar 2018 | 11:41 | Rusmanto

WinNetNews.com - Facebook bakal ditinggal Alex Stamos, yang saat ini menjabat Chief Security Officer, dalam waktu dekat ini.

Keputusan Stamos untuk meninggalkan Facebook, disebut-sebut karena perselisihan antara Stamos dengan Facebook terkait cara menangani penyebaran informasi salah alias hoax di jejaring media sosial tersebut.

Keputusan Stamos untuk pergi dari Facebook sebenarnya sudah ada sejak 2017 lalu, namun Facebook menahannya sampai Agustus mendatang agar ia bisa membantu transisi untuk mengalihkan tanggung jawabnya ke orang lain.

Karena ditinggal Stamos, Facebook dilaporkan sudah memecah dan mengalihkan tugas dari tim keamanannya. Sebanyak 120 orang karyawan yang tadinya berada di bawah Stamos kini dialihkan ke tim produk dan infrastruktur.

Tak jelas apakah Facebook masih mempertahankan tim keamanan khusus atau divisi tersebut kemudian diintegrasikan ke divisi-divisi lainnya, demikian dikutip dari The Verge, Rabu (21/3/2018).

Penundaan kepergian Stamos juga dilakukan agar Facebook tak kehilangan muka terkait penyalahgunaan jejaringnya oleh Rusia, untuk mempengaruhi hasil Pemilihan Presiden AS 2016. Namun dengan adanya skandal penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica yang terungkap baru-baru ini, kabar kepergian Stamos ini mencoreng wajah Facebook.

Cambridge Analytica adalah perusahaan yang menjalankan operasi pengolahan data untuk kampanye Donald Trump pada Pilpres AS 2016. Mereka mendapat banyak pujian karena sukses mengarahkan kampanye Trump pada pemilihnya secara efektif, lebih efektif ketimbang pesaingnya yaitu Hillary Clinton.

Namun baru-baru ini Facebook menyebut Cambridge Analytica melanggar kebijakannya terkait pengumpulan dan penyimpanan data milik Facebook. Meski perannya dalam kampanye tersebut bisa dibilang masih misterius, menurut Facebook perusahaan tersebut mengumpulkan data secara tak tepat .

Hal tersebut membuat Cambridge Analytica bisa mendapat keunggulan dalam mencapai target pemilihnya, namun hal tersebut dianggap oleh Facebook sebagai keunggulan yang tak adil. 

Meski begitu, sampai saat ini pihak Facebook belum bisa memastikan bagaimana data-data tersebut bisa digunakan untuk mengarahkan kampanye iklan terkait pemilihan presiden tersebut. (detikcom)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...