Fakta Menarik di Balik Film Kartini Karya Hanung Bramantyo
Foto:Youtube

Fakta Menarik di Balik Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Jumat, 21 Apr 2017 | 09:25 | Cindy Cesilia

WinNetNews.com - Kartini adalah sosok perempuan asal Jepara Kartini yang mampu membuat semua perempuan Indonesia sejajar dengan kaum pria. 21 April menjadi hari Kartini, hari ini dibuat untuk menghormati sosok Kartini. Baru-baru ini film Kartini rilis di bioskop Rabu 19/04/2017 lalu. Film yang bercerita tentang masa kecil dan remaja pahlawan emansipasi wanita Tanah Air ini, memang cukup banyak menarik perhatian para pecinta film. Di hari pertama penayangannya film Kartini mendapatkan 57 ribu penonton.

"Karena bagi kami, hanya dengan karya, negeri ini akan terus berdaulat dan mandiri. Terima kasih buat penonton yang sudah menonton dan menghargai karya kami," tulis Hanung Bramantyo di instagramnya. Untuk menunjang kesuksesan film ini, tim produksi melakukan berbagai riset untuk film Kartini. Robert Ronny, produser Kartini, menyebutkan bahwa riset film ini dilakukan hingga ke Negeri Kincir Angin.

"Kita ngirim tim riset (ke Belanda), di sana ada ahli-ahli Kartini yang bantu kita," jelas Robert. Menurutnya riset ini dilakukan untuk mendapatkan sumber-sumber yang lengkap. "Terutama foto-foto. Di sana masih lengkap dan tersimpan rapi," kata Robert.

Hanung Bramantyo punya cerita unik dengan hari Kartini, film Kartini ternyata dipicu oleh pengalaman sang sutradara, saat masih bersekolah. Kejadiannya, saat peringatan hari Kartini. Sebuah tradisi di sekolahnya di setiap tanggal ini, yakni peragaan busana dengan mengenakan baju daerah.

"Kan biasa kalau Hari Kartini itu yang perempuan pakai kebaya, yang laki pakai blangkon khas daerah saya, Jogja, lalu pakai sorjan," kata Hanung Bramantyo. Tidak hanya Hanung, pemeran Kartini, Dian Sastro juga punya pengalaman unik selama proses syuting. Salah satunya adalah penggunaan bahasa Jawa halus dan bahasa Belanda.

"Saya belajar dari nol. Belajar bahasa Jawa dengan baik dan benar, bahasa Indonesia dengan logat Jawa, bahasa Belanda juga," kata Dian Sastro. Tidak hanya itu saja, ia juga harus melakukan laku dodhok atau berjalan dalam posisi jongkok. Ternyata, hal ini menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi Hanung Bramantyo.

"Pengalaman menarik itu lihat Dian Sastro jalan jongkok, itu luar biasa, " kata Dian. Selain itu dalam proses syuting tim produksi kesulitan mencari rumah asil Kartini di Jepara. film ini memang dibuat di lokasi otentik tempat tinggal keluarga Kartini di Jepara.

Akhirnya, pihaknya memutuskan untuk meriset arsitektur pendopo dan interior saat masa Kartini, dan membangunnya kembali di Jakarta dan Yogyakarta. "Interiornya di sebuah studio di Jakarta, eksteriornya di Jogja," kata Hanung.

Sumber:Youtube

Foto:Instagram.com/legacypictures

Foto:Instagram.com/hanungbramantyo

Foto:Instagram.com/diansastro

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...