Fakta Soal Racun Kalajengking yang Disebut Sangat Mahal Melebihi Emas
Sumber foto : Istimewa

Fakta Soal Racun Kalajengking yang Disebut Sangat Mahal Melebihi Emas

Kamis, 3 Mei 2018 | 20:12 | Oky

Winnetnews.com - Presiden Joko Widodo saat Musrenbang di Istana Negara, 30 April lalu, mengungkapkan bahwa cairan yang paling mahal di dunia adalah racun kalajengking. Harganya Rp 145 miliar per liter.

Cerita itu disampaikan Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di hadapan para kepala daerah di Hotel Grand Sahid Jaya.

Menurut Jokowi, zat dengan nilai tertinggi adalah racun kalajengking yang harganya US$ 10,5 juta atau Rp145 miliar per liter.

Jokowi berkelakar ceritanya ini bisa menjadi ide bisnis bagi masyarakat yang ingin cepat meraup untung.

"Jadi kalau mau kaya, cari racun kalajengking," ujar Jokowi.

Pernyataan Jokowi soal mahalnya harga racun kalajengking itu kemudian menjadi viral, bahkan ada yang menjadikannya olok-olok.

Padahal, faktanya, racun kalajengking atau scorpion venom adalah zat yang paling dicari saat ini di dunia kedokteran karena manfaatnya yang luar biasa untuk pengobatan.

Sebenarnya, manfaat racun hewan ini bukanlah sesuatu yang baru. Selain racun kalajengking yang menurut ABC Science yang harganya $ 10,3 juta atau Rp 145 miliar per liter, di urutan kedua adalah racun atau bisa king kobra yang harganya $ 40,400 per liter atau Rp 565,5 juta per liter.

Tentu, kalau membayangkan bagaimana cara mengumpulkan 1 liter racun kalajengking, tentu sangat sulit.

Berapa ekor kalajengking yang harus dikumpulkan dan bagaimana caranya?

Penelusuran dari Quora.com, satu ekor kalajengking hanya menghasilkan maksimal 0,5ml setiap kali panen.

Artinya, untuk mendapatkan 1 liter racun, tentunya dibutuhkan 20 ribu ekor kalajengking.

Kesannya memang mengerikan mengingat risikonya. Sebab, sengatan kalajengking bisa melumpuhkan seluruh tubuh. Bahkan, kalajengking deathstalker asal Meksiko yang terkenal ganas bisa membunuh.

Namun, jika kta ambil angka terkecil, dua ekor kalajengking bisa menghasilkan Rp 142 juta lho.

Apa hebatnya racun kalajengking?

Racun kalajengking merupakan senjata bagi binatang itu untuk melumpuhkan lawan-lawannya.

Dilansir dari askabiologist.asu.edu, racun kalajengking memiliki rantai protein yang sangat kecil bernama chlorotoxin.

Chlorocotin ini kemudian memblokir saluran-saluran pada sel-sel otot, dan menghentikan ion-ion masuk, termasuk klorida yang membuat otot bergerak.

Temuan di dunia kedokteran, racun kalajengking ini menjadi temuan luar biasa sebagai pengganti obat kimia untuk membunuh sel-sel kanker dan tumor, terutama tumor otak.

Racun kalajengking berisi campuran bahan kimia biologis yang disebut peptida yang memicu kematian sel dengan membentuk pori-pori dalam membran biologis.

Nah, peptida inilah yang kemudian digunakan untuk membunuh sel tumor secara otomatis..

Racun ini dapat memiliki efek yang sangat kuat. Misalnya, satu peptida kecil tertentu --yang dikenal sebagai TsAP-1-- diisolasi dari kalajengking kuning Brasil (tityus serrulatus), memiliki sifat anti-mikroba dan anti-kanker.

Karena peptida ini tidak hanya membunuh sel tumor, tetapi juga sel sehat, maka digunakan nanoteknologi sebagai kendaraan untuk mengantarkan peptida ke sel yang dikehendaki, yakni sel tumor.

Upaya tersebut telah dilakukan oleh Dipanjan Pan di University of Illinois di Urbana-Champagne.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Communications, para ilmuwan mengklaim telah membuat kapsul bulat untuk menjebak racun racun kalajengking TsAP-1.

Racun ini bernama NanoVenin untuk membunuh sel-sel kanker payudara sebanyak sepuluh kali lebih basik dibanding obat lain.

Di alam, hewan menggunakan racun untuk membela diri atau untuk menangkap mangsa.

Di laboratorium, para ilmuwan menemukan bahwa protein berbisa ini dapat digunakan dalam pengobatan.

Menjadi Senter Bagi Dokter

Selain membunuh sel tumor, racun kalajengkin juga memiliki sifat untuk obat penghilang rasa sakit.

Tetapi ada pengembangan yang menarik lainnya oleh peneliti Seattle dengan apa yang dinamakan “tumor cat”"dari racun kalajengking.

Racun ini berhasil mengidentifikasi kanker otak dan menjadi penunjuk atau semacam senter bagi para dokter untuk melihat sel-sel kanker.

“Toksin scorpion mencari sel kanker dan kemudian menjadi senter di dalamnya sehingga membuat sel-sel kanker itu bersinar cemerlang dan memudahkan tim dokter untuk mengangkatnya,” kata "Dr Jim Olson, seorang spesialis kanker otak di Rumah Sakit Anak Seattle.

Panen Dolar Dari Racun Kalajengking

Mahalnya racun kalajengking sepadan dengan nilainya dalam kehidupan manusia.

Bahkan, darah, berada di urutan ke-10 cairan termahal di dunia.

Apalagi racun atau bisa binatang, membutuhkan standar tinggi karena kontaminasi apapun bisa merusak racun tersebut.

Memerah atau memanen venom kalajengking membutuhkan laboratorium yang terkontrol, namun hal itu bukan tidak mungkin karena berbagai alat farmasi untuk itu, juga mudah didapatkan di pasaran.

Misalnya Cryogenic Chamber atau tabung berisi nitrogen cair untuk membuat racun bisa awet dan terhindar dari kontaminasi.

Dilansir dari quora.com, ketika stimulasi listrik digunakan untuk "memerah" kelenjar racun kalajengking, hasil rata-rata yang diperoleh 0,006 mg hingga sekitar 0,2mg racun dari satu kalajengking.

Namun, racun kalajengking ini bisa tiga kali panen dalam seminggu sehingga setiap bulan, bisa 12 kali panen dan menghasilkan 2,4mg per kalajengking.

Di Maroko, kini sudah ada alat yang bisa memanen kalajengking lebih mudah sehingga binatang berbisa itu tidak perlu dipegang secara manual.

Jumlah itu mungkin tidak terlihat banyak, tetapi itu bernilai $ 30.000 atau Rp 400 juta.

Jika Dikurangi dengan biaya produksi, seperti fasilitas penyimpanan racun, biaya pemeliharaan kalajengking dan sebagainya, Anda masih memiliki penghasilan ratusan juta rupiah per bulan.

Hanya saja, tentu Anda harus mempelajari, jenis kalajengking yang bisa menhasilkan venom –yang kabarnya tak lebih dari 24 jenis saja di seluruh dunia.

Selain itu juga belajar bagaimana memelihara hewan ini dan itu tidak begitu sulit karena saat ini banyak kelompok pecinta hewan di Indonesia.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...