FFI 2015, 'Siti' Dijagokan Jadi Film Terbaik

FFI 2015, 'Siti' Dijagokan Jadi Film Terbaik

WinNetNews.com - Festival Film Indonesia (FFI) 2015, malam puncak apresiasi tertinggi bagi insan perfilman Indonesia, akan berlangsung Senin (23/11/2015) malam ini, di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD.

Dari 21 kategori yang ada, yang paling menarik disimak yaitu lima nominasi kategori Film Terbaik. Film yang berhasil masuk nominasi ini adalah "Guru Bangsa: Tjokroaminoto" yang disutradarai Garin Nugroho, "A Copy of My Mind" arahan Joko Anwar, "Mencari Hilal" karya Ismail Basbeth, "Toba Dreams" karya sutradara Beni Setiawan, dan "Siti" karya sutradara Eddie Cahyono.

Kelima nominasi film tersebut terpilih dari sekitar 61 film yang mendaftar di FFI 2015. Dipilih oleh 85 juri kompeten pada tahap awal, kelima film tersebut dirasa mewakili karya terbaik industri perfilman sepanjang 2015.

Baca jugaInilah Para Jawara FFI 2015

Jika ditanya siapa yang paling pantas mendapatkan Piala Citra sebagai Film Terbaik FFI 2015, tentu setiap insan perfilman memiliki jawabannya masing-masing. Seperti sutradara Mencari Hilal, Ismail Basbeth. Meskipun filmnya masuk sebagai salah satu nominasi Film Terbaik FFI 2015, Ismail rupanya menjagokan Siti keluar sebagai pemenang.

"Saya tidak kepikiran mau menang atau enggak. Yang jelas, saya menjagokan Siti. Film saya bagus, saya tahu itu, tapi saat ini ada yang jauh lebih penting. Saya harus jujur, toh saya punya selera sendiri. Saya enggak boleh bohong," ungkap Ismail saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu, dilansir dari Metrotvnews, Senin (23/11/2015).

Bahkan pada September 2015 lalu, Ismail pernah menulis dalam media sosialnya tentang harapan Siti dapat mewakili Indonesia di ajang Oscar. "Saya berdoa dan berharap. Pertimbangkan SITI karya Eddie Cahyono untuk wakil Indonesia di Oscar! @aniesbaswedan matur nuwun," cuit Ismail di akun Twitter.

 

Film Siti sendiri merupakan film panjang, 88 menit, dengan konsep hitam putih karya Eddie Cahyono. Film ini memiliki pesan mendalam mengenai peran seorang wanita terhadap suami, anak, dan mertua. Mengambil latar belakang kehidupan di Pantai Parangtritis.

Film ini adalah kejujuran yang dibalut dalam kesederhanaan. Meskipun sang produser, Ifa Ifansyah, menjelaskan jika pengambilan layar hitam putih dikarenakan budget yang minim, yaitu sekitar Rp 150 juta, justru layar hitam putih kian memberi kesan mendalam pada lika-liku kehidupan Siti.

Sementara bagi Eddie, filmnya bisa masuk dalam lima nominasi FFI 2015, sudah merupakan kemenangan tersendiri baginya. Dia tak berharap banyak untuk lolos sebagai pemenang. Sekilas sinopsis Siti, film ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan penjual peyek jingking di sekitar pantai Parangtritis, Yogyakarta.

Semenjak sang suami lumpuh akibat kecelakaan sewaktu melaut, Siti (Sekar Sari) harus berjuang menghidupi Anaknya (Bintang Timur Widodo), ibu mertua (Titi Dibyo), dan suaminya (Ibnu Widodo).

Siti harus menambah penghasilan dengan menjadi wanita pemandu karaoke. Namun sayang, pekerjaan Siti yang baru ini mengakibatkan suaminya diam, mogok bicara kepadanya.