Film Dokumenter 'Bless This Mess' Ungkap Cerita Mantan Napi pembuat Tato di Lapas

Film Dokumenter 'Bless This Mess' Ungkap Cerita Mantan Napi pembuat Tato di Lapas

Minggu, 7 Agt 2016 | 23:59 | Ahmad Mashudin

WinNetNews.com -  Rumah Sanur Creative Hub di Denpasar menggelar pemutaran film dokumenter berjudul Bless This Mess. Film karya Panca Dwinandhika Zen berdurasi 35 menit itu menceritakan kehidupan mantan narapidana yang memiliki tato Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banceuy, Bandung.

Film dokumenter ini menceritakan bagaimana kegiatan para pembuat tato di dalam Lapas Banceuy. Proses penggarapan keseluruhan film tersebut, kata Panca, memakan waktu selama dua tahun. "Itu termasuk riset, dan proses pendekatan dengan masing-masing narasumber," katanya di Rumah Sanur - Creative Hub, Denpasar, Minggu, 7 Agustus 2016. "Ini film pertama saya."

Melalui film bertema tato dan stigma kriminalisasi ini, Panca ingin menyadarkan masyarakat agar lebih terbuka terhadap seni tato. Selain itu, dia ingin mengingatkan sekaligus menceritakan kronologis stigma kriminal pada tato.

"Ada lima narasumber dari masa 1980-an, 1990-an, 2000-an, usia mereka dari 29 tahun sampai 60 tahun. Dari lima mantan narapidana itu, kasus narkoba dan penusukan," ujarnya. Ia sengaja memilih lima narasumber dari berbagai usia agar tidak terjebak hanya pada satu masa saja.

Panca mengaku tak ada kesulitan untuk menggali informasi dari mereka. "Responnya, mereka merasa tertarik untuk menceritakan karena selama ini tidak ada yang minat bertanya pada mereka," ujarnya. "Film ini berusaha untuk memberi ruang bertutur bagi mereka yang selama ini terus mengalami stigmatisasi."

Ia menuturkan bahwa kehidupan narapidana yang memiliki tato bisa menunjukkan posisi mereka di antara rekan-rekannya. "Di penjara ditelanjangi, dihitung tatonya. Ada stratanya makin banyak tato makin disegani," kata pria yang menyenangi motif tato nusantara ini.

Selama lima tahun ia bergelut di dunia tato. Ia mempelajari tato dari segala aspek secara komprehensif, yaitu tradisi, kriminalisai, dan urban. "Saya melihat tato sebagai salah satu subjek yang menarik untuk survive (bertahan), bersosialisasi, artistik, dan untuk berpenghasilan mencari uang juga bisa," tuturnya.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...