Forever 21 Umumkan Bangkrut dan 350 Gerai Bakal Ditutup, Ini Penyebabnya

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Forever 21 Umumkan Bangkrut dan 350 Gerai Bakal Ditutup, Ini Penyebabnya Perusahaan ritel AS Forever 21 mengajukan pailit. (Foto: Reuters)

Winnetnews.com - Perusahaan ritel mode raksasa asal Amerika Serikat (AS) Forever 21 mengumumkan telah mengajukan dokumen pailit. Di Amerika, dokumen pailit ini biasa disebut Chapter 11. Perusahaan fast-fashion global itu meminta persetujuan untuk menutup 350 tokonya di seluruh dunia, di antaranya termasuk 178 toko yang ada di Amerika. Demikian seperti yang diumumkan juru bicara perusahaan, dilansir Wall Street Journal. Perusahaan tersebut juga berencana melikuidasi gerainya di Asia dan Eropa.

“Pengajuan pailit memungkinkan kami untuk mengatur kembali bisnis kami dan mengatur ulang posisi Forever 21,” kata Executive Vice President Forever 21 Linda Chang dalam siaran pers, dikutip dari CNN.

Dalam surat resminya, Forever 21 mengatakan kepada pelanggan bahwa keputusan menutup gerai akan dilangsungkan sembari menunggu hasil diskusi lanjutan dengan pemilik tanah. Perusahaan juga berharap sejumlah besar gerai akan tetap buka dan beroperasi seperti biasa. Perusahaan juga tidak berharap akan keluar dari pasar utama mereka di AS.

Foto: Money Control

Laman Katadata mencatat, saat ini perusahaan yang fokus menjual busana untuk perempuan muda dan remaja tersebut memiliki 815 gerai di 57 negara. Pekan lalu, perusahaan mengumumkan akan keluar dari Jepang dan menutup seluruh 14 gerainya di negara tersebut. Perusahaan juga menyatakan bahwa cabangnya di Kanada telah mengajukan pailit atau bangkrut dan berencana menutup 44 gerai di sana untuk menggembosi tekanan bisnis.

Berdasarkan dokumen pengajuan pailit yang dilansir Reuters, Forever 21 memiliki aset dan kewajiban masing-masing 1-10 miliar dolar AS atau sekitar 14-141 triliun rupiah. Perusahaan menyatakan telah menerima pendanaan berupa pinjaman sebesar 275 juta dolar AS dari JPMorgan Chase Bank dan suntikan dana 75 juta dolar AS dari TPG Sixth Street Partners, dan beberapa afiliasi lainnya.

Linda Chang mengatakan pengajuan Chapter 11 penting dan perlu dilakukan untuk mengamankan masa depan perusahaan.

Forever 21 menambah daftar panjang peritel tradisional yang menghadapi gelombang tren belanja daring atau online. Mereka terbebani oleh tingkat utang yang tinggi dan biaya sewa gerai.

“Peritel yang bersandar pada utang untuk membiayai pertumbuhannya selalu menjadi yang paling rentan mengalami perlambatan (bisnis),” kata Greg Portell, seorang ahli bisnis dari perusahaan konsultan ritel A.T. Kearny.

Dalam beberapa tahun ini, peritel yang sehat pun melakukan penutupan gerai, sedangkan peritel yang kondisi finansialnya tertekan mengajukan pailit. Menurut data Coresight Research, peritel di AS yang telah mengumumkan tutup gerai lebih dari 8.200 gerai, meningkat dari tahun lalu yaitu 5.589 gerai.

Coresight memprediksi pelemahan aktivitas ritel akan terus berlanjut dan diperkirakan akan menumpuk hingga dapat mencapai 12 ribu pada akhir 2019.

Adapun Forever 21, didirikan pada 1984 dan bermula dari sebuah gerai kecil di Los Angeles oleh imigran asal Korea Selatan, Do Won Chang dan istrinya, Jin Sook. Gerai itu berkembang pesat di mal-mal pinggiran kota, dengan menyediakan barang mode standar yang terjangkau dan selalu diperbarui. Dari sana, Forever 21 semakin diminati pelanggan.

Forever 21 kemudian membangun toko-toko besar, seperti toko empat lantai dengan 151 ruang ganti di jantung New York Square. Ketika banyak peritel mulai mengurangi gerai mereka dalam beberapa tahun belakang, Forever 21 justru menambah gerai mereka setidaknya hingga 2016.

“Kombinasi dari perubahan mode yang cepat, dan bertambah cepatnya rantai pasokan telah memperburuk risiko lantaran meningkatkan peluang kesalahan peritel dalam membaca tren dan melewatkan sejumlah siklus tren,” kata Portell.

Hingga kini, Forever 21 masih dimiliki oleh pendirinya Do Won Chang dan Jin Sook. Forbes menaksir kekayaan bersih keduanya sekitar 1,5 miliar dolar AS. Sementara itu, Forever 21 mencatat jumlah penjualan tahunan mereka sebesar 3,4 miliar dolar AS dengan jumlah pegawai 30 ribu orang.

 

 

Apa Reaksi Kamu?