Gafatar Ternyata Evolusi dari Ajaran 'Nabi' Ahmad Musadeq

Gafatar Ternyata Evolusi dari Ajaran 'Nabi' Ahmad Musadeq

Kamis, 14 Jan 2016 | 10:50 | kontri
WinNetNews.com - Majelis Ulama Indonesia menyatakan ada indikasi Gerakan Fajar Nusantara merupakan organisasi pecahan Al-Qiyadah Al-Islamiyah pimpinan Ahmad Musadeq.

"Gafatar ini metamorfosis dari beberapa aliran, salah satunya di beberapa daerah ialah pecahan Al-Qiyadah Al-Islamiyah," kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis.

Menurut Cholil, pola gerakan Gafatar di tiap daerah berbeda-beda. Namun gerakan Gafatar mirip dengan gerakan yang pernah dibawa Ahmad Musadeq. “Ada sebagian yang di Aceh jelas pecahannya Al-Qiyadah Al-Islamiyah (dari) Ahmad Musadeq,” kata Cholil.

Markas Besar Kepolisian RI mengklarifikasi dugaan MUI tersebut. “Gafatar memang dari sana (organisasi Musadeq),” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan. Musadeq mulai disorot sejak 2006 ketika mengaku sebagai nabi. Dalam rekaman taklim tahun 2007, ia menjelaskan ajarannya.

“Kami ini bukan penganut agama, karena Ad-Diin itu selalu sama dari zaman Adam hingga Muhammad. Kami hanya hendak berhukum pada hukum asasi yang disebut dengan Islam, apapun sebutannya. Istilah agama saat ini telah membatasi Islam pada urusan budi pekerti, fikih, dan ritual,” kata Musadeq.

Musadeq divonis penjara pada 2008 dan sempat bertobat di hadapan MUI. Namun ia akhirnya tetap menyebarkan ajarannya lewat nama-nama baru, di antaranya Milah Abraham dan Gafatar.

Polri menganggap Gafatar berbahaya karena mengusung ideologi yang menyimpang, mengatasnamakan Islam namun tak sesuai dengan syariat agama Islam.

Misalnya, Gafatar disebut mempermudah ritual agama, antara lain tidak perlu menunaikan salat lima waktu dan puasa. Ritual tak lagi penting karena bagi mereka yang utama ialah berbuat baik kepada sesama.

"Agama dipermudah. Bagi yang tidak suka ribet dan ingin instan, maka sangat menarik," kata Anton. Selain itu, Gafatar meyakini Muhammad bukan nabi akhir zaman, sebab ada utusan terakhir, yakni Ahmad Musadeq sendiri.

Halaman berikutnya: Generasi Baru Musadeq

 

Generasi Baru Musadeq

Gaya baru diterapkan Gafatar atau mungkin Musadeq 2.0 alias Musadeq generasi berikutnya. Lewat komunikasi yang mumpuni, Gafatar tak memberikan tekanan soal akidah dan keyakinan seperti yang dibawa Musadeq. Gafatar menekankan pada nasionalisme bernegara.

Di Semarang, Jawa Tengah, Gafatar dikenal sebagai organisasi sosial yang aktif melakukan kegiatan penghijauan dengan pendekatan lebih populer seperti menonton film bareng. Kini kantor sekretariat Gafatar di Semarang ditinggalkan penghuninya begitu saja. Rumah dua lantai itu terlihat berantakan.

Tampak berkas surat-surat dengan kop bertuliskan Gafatar Properties . Ada pula spanduk di tembok yang bertuliskan “Gafatar Menuju Program Kemandirian dan Ketahanan Pangan”.

Di rumah tersebut juga melekat sambungan telepon dan internet. Kantor itu, menurut warga sekitar, mulai sepi dan tak berpenghuni sepekan terakhir lebih bersamaan dengan berita hilangnya dokter Rica di Yogyakarta.

"Seminggu belakangan rumah ini sepi ditinggal penghuninya. Padahal biasanya setiap hari tertentu banyak orang kumpul di situ", ujar Jatmiko, warga setempat.

Beberapa hari sebelumnya, sejumlah orang mendatangi kantor Gafatar Semarang untuk mencari anggota keluarga mereka yang hilang. Alhasil warga setempat jadi ikut penasaran soal organisasi itu.

Keberadaan Musadeq hingga kini pun belum diketahui. Namun sejumlah hasil pelacakan polisi mengarah ke Kalimantan. Di pulau itu pula, dokter Rica ditemukan dan dibawa pulang ke Yogyakarta. Namun Rica kini kerap melamun dan menatap kosong sehingga polisi mendatangkan tim psikolog untuknya.

(dilansir dari cnnindonesia)

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...