Skip to main content

Gagal bayar Yunani di depan mata

Gagal bayar Yunani di depan mata
Gagal bayar Yunani di depan mata

ATHENA. Kemarin (28/6), parlemen Yunani menyalakan lampu hijau atas usulan referendum bailout Perdana Menteri Alexis Tsipras pada 5 Juli 2015 nanti. Pada referendum ini, warga Negeri Dewa-Dewi bakal memilih: menerima atau menolak persyaratan terbaru dari para kreditur untuk mengucurkan dana talangan terakhir ke negaranya.

Pekan lalu para kreditur Yunani menawarkan proposal baru. Mereka akan menyediakan dana € 15,5 miliar dalam lima bulan. Dari total dana itu, sebanyak € 1,8 miliar bakal tersedia saat ini juga.

Tapi, 18 menteri keuangan Zona Euro atau Eurogroup yang bertemu Sabtu (27/6) lalu bereaksi negatif atas pengumuman referendum yang muncul beberapa saat sebelum pertemuan.

Eurogroup untuk pertama kalinya menggelar rapat dan mengeluarkan pernyataan tanpa kehadiran Menteri Keuangan Yunani Yanis Varoufakis. Mereka menolak permintaan Tsipras untuk memperpanjang bailout hingga setelah pelaksanaan referendum.

Dalam pernyataan, para menteri keuangan ini menuduh Yunani memutus negosiasi yang berlangsung sampai lima bulan terakhir. "Bantuan finansial yang ada saat ini bagi Yunani akan kadaluwarsa pada 30 Juni 2015 dan juga seluruh persetujuan terkait program untuk Yunani," kata Eurogroup, Sabtu lalu.

Dengan penolakan ini, berarti program dana talangan berakhir besok, Selasa (30/6). Itu berarti pula, Yunani sangat berpotensi gagal bayar (default) atas utang Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) sebesar € 1,6 miliar.

Tapi, Varoufakis masih optimistis bakal lahir sebuah kesepakatan baru. "Pemerintah Yunani memperjuangkan kesepakatan di akhir waktu pada Selasa," kata dia usai penolakan Eurogroup.

Jika Yunani gagal bayar, maka dampaknya akan terasa terutama di Eropa. Kemarin, banyak warga Yunani mengantre di ATM untuk menarik dana mereka. Kalau rush ini terus berlangsung, perbankan sekaligus bank sentral Yunani bakal kesulitan dana. Itu sebabnya, Pemerintah Yunani kemungkinan akan mengontrol aliran dana di dalam negeri serta menutup perbankan hari ini, Senin (29/6).

Sedangkan European Central Bank (ECB) memastikan tidak akan menambah dana darurat yang tersedia bagi Yunani. ECB tetap mempertahankan dana darurat di level yang sama. Tapi, "Kami memonitor situasi dan siap untuk mempertimbangkan kembali keputusan," kata ECB.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Dody Arifianto, Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), mengatakan, dampak krisis Yunani ke Indonesia tidak akan secara langsung. Sebab, hubungan dagang dan finansial kedua negara terbatas dan tidak signifikan.

Namun, "Ada dampak tidak langsung berupa fenomena risk off, flight to quality akibat default Yunani mungkin cukup menimbulkan turbulensi," ujar Dody.

Efek ke pasar finansial Indonesia pun terbatas. "Berbeda dengan tahun 2008, Uni Eropa telah membuat ringfence yang lebih kuat sehingga dampak terbesar akan dirasakan Yunani," ucap Dody.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top