Garuda Indonesia Kembangkan Rute Jarak Menengah

Garuda Indonesia Kembangkan Rute Jarak Menengah

Sabtu, 26 Mar 2016 | 09:06 | Rusmanto
WinNetNews.com - Rute-rute jarak menengah atau midle range akan menjadi fokus bagi PT Garuda Indonesia Tbk pada tahun ini dalam membidik pasar inbound , dibandingkan ekspansi melayani jarak jauh.

Dirut Garuda Indonesia Arif Wibowo mengemukakan‎ persaingan antar maskapai sangat ketat, dan ada tendensi rata-rata harga jual menurun untuk memperoleh market share yang lebih besar, sehingga harus fokus ke pasar yang memiliki volume besar.

Menurutnya, Garuda akan fokus menggarap pasar China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia, karena pasarnya sangat besar. Untuk Australia, akan difokuskan memperkuat rute ke tiga kota, yakni Sydney, Perth, dan Melbourne.

Mantan Dirut Citilink ini menyatakan salah satu upaya penguatan itu dengan melakukan penyesuaian, berupa penggunaan pesawat yang memiliki fasilitas diamond seat . Namun, untuk sementara layanan itu diberikan untuk tujuan Melbourne, karena jumlah pesawat baru satu unit.

Adapun untuk pasar China, maskapai pelat merah ini akan menjadikannya sebagai fokus utama, karena besarnya pasar outbound dari negara tersebut. Traveler dari China ke luar negeri diprediksi mencapai 100 juta orang wisman, sedangkan yang berhasil digaet Indonesia masih di bawah 1 juta wisman. ‎Untuk menuju target minimal 2 juta wisman China, menurutnya, masih perlu bekerja lebih keras.

 

Salah satu upaya menarik lebih besar wisman dari negara ini, dengan menambah frekuensi penerbangan dari Beijing, Shanghai, dan Guangzhou tujuan Bali. Rute Beijing, tadinya tiga kali penerbangan setiap minggu menjadi empat kali, Shanghai tadinya tidak ada kemudian dibuka.

Selain frekuensi, kapasitas pesawat diperbesar menggunakan tipe wide narrow jenis Boeing 777 dari sebelumnya memakai Airbus 330, dan mulai diterapkan akhir Maret ini. Dia mengatakan untuk tambahan dari Beijing sudah mulai diberlakukan sejak Januari, sedangkan Shanghai dan Ghuanzoa mulai Februari.

Arif menyatakan khusus untuk pasar China, pihaknya memutuskan belum akan membuka rute baru selain ke Jakarta dan Bali, karena pertimbangan bagaimana efektivitas penempatan pesawat berkapasitas besar . Kalau harus membangun destinasi di luar dua kota tersebut, menurutnya, membutuhkan investasi jangka panjang.

"Jadi kalau kami, gunakan saja entry point Bali dan Jakarta dulu agar tetap bisa membangun konektivitas ke domestik," jelasnya.

Dia menegaskan apabila langsung menambah destinasi baru ke Indonesia, saat ini dinilai belum aman bagi pelaku bisnis penerbangan. Akan lebih bermanfaat menjadikan Bali dan Jakarta menjadi semacam hub mendistribusikan wisman ke daerah lain di Indonesia.

disadur dari situs bisnis

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...