Gawat! BPJS Kesehatan Diprediksi Alami Defisit Hingga Rp32,8 Triliun
Sri Mulyani (sumber: Bisnis Tempo)

Gawat! BPJS Kesehatan Diprediksi Alami Defisit Hingga Rp32,8 Triliun

Rabu, 28 Agt 2019 | 09:21 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com -  Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia, mengatakan bahwa BPJS Kesehatan berpotensi mengalami defisit hingga Rp32,8 triliun pada tahun ini. Namun ia mengaku bahwa angka kerugian dapat berkurang menjadi Rp14 triliun jika peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) melakukan iuran lebih mulai Agustus 2019.

Dilansir dari CNN Indonesia pada (28/08), Sri Mulyani mengungkapkan, “Jika iuran tetap sama, peserta sama, proyeksi rawat inap sama, maka defisit akan terus meningkat, dari angka Rp28,35 triliun ke angka Rp32,84 triliun.”

Angka defisit tersebut sudah dikalkulasi dengan defisit tahun lalu sebesar Rp9,1 triliun. “Kenaikan kelas merupakan solusi satu-satunya untuk memperbaiki sistem keuangan BPJS Kesehatan,” ungkap Sri Mulyani pada Selasa (27/08).

Sri Mulyani mengusulkan kenaikan tarif PBI sebesar Rp19 ribu. Dari tarif awal per orang sebesar Rp23 ribu, menjadi Rp42 ribu. Bila mendapat restu Presiden Joko Widodo, maka BPJS akan mendapatkan slot dana baru karena jumlah subsidi bertambah.

Menurut perhitungan Kementerian Keuangan, pemerintah harus menggenjot dana tambahan sekitar Rp13,56 triliun jika isu kenaikan PBI berhasil direalisasikan. Kalkulasi angka tersebut berasal dari dana peserta PBI yang ditanggung pemerintah sebesar Rp9,2 triliun dan dana dari pemerintah daerah sebesar Rp3,34 triliun.

Ia juga menyinggung tentang kenaikan iuran baru bagi Pekerja Penerima Upah (PPU) Penyelenggara Negara, seperti PNS, TNI, Polri, dan pejabat negara. Kucuran dana juga akan bertambah jika BPJS Kesehatan berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp5 triliun.

Angka tersebut juga bisa ditutupi dengan potensi surplus sebesar Rp17,2 triliun. Usulan Sri Mulyani mengenai penaikkan kelas mandiri I-III ini harus disetujui Presiden Jokowi.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...