Geger Kasus Reynhard, Apa Sih Sebenarnya yang Membuat Orang Jadi Predator Seks?
Ilustrasi: SINDONews

Geger Kasus Reynhard, Apa Sih Sebenarnya yang Membuat Orang Jadi Predator Seks?

Minggu, 12 Jan 2020 | 18:08 | Amalia Purnama Sari
Winnetnews.com - Kasus Reynhard Sinaga sampai detik ini masih menjadi topik hangat di kalangan netizen Indonesia. Pelaku kekerasan seksual tersebut disebut sebagai predator dengan korban terbanyak dalam sejarah Inggris. Para korban Reynhard menurutkan bahwa mereka tidak menyangkan pira berusia 36 tahun tersebut merupakan seorang predator seks.

Salah satu korban mengatakan bahwa Reynhard merupakan sosok yang baik, charming, dan tidak berbahaya. Terlebih Reynhard memperkenalkan diri sebagai mahasiswa asing yang tinggal di Inggris.

Melansir Detik Health, spesialis kejiwaan dari Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, dr. Gina Anindyajayati, SpKJ, menjelaskan jika seseorang cenderung melakukan kekerasan seksual ketika terjadi keterampilan sosial yang buruk. Para predator seksual biasanya tidak bisa mengembangkan relasi sosial sehingga memiliki hubungan yang tegang dengan orang lain.

“Perlu dibedakan antara keterampilan seseorang dengan tampilannya. Boleh saja charming, tapi dia punya teman tidak? Coba bedakan dengan keterampilan sosial, kapasitas mengembangkan relasi yang aman dan harmonis dengan orang lain dan relasi yang stabil. Bagaimana seseorang menjalani pendidikannya juga bisa menjadi faktor,” jelas dr. Gina saat ditemui di IMERI FKUI, Salemba, Jakarta Pusat.

Pelaku kekrasan seksual, menurut dr. Gina, kerap merasa tidak puas dengan berbagai bentuk hubungan yang mereka jalani. Mereka kerap merasa terhina, sendiri, rentan dalam masulinitas, dan memiliki masalah emosional.

Orang dengan masalah seksual seperti ejakulasi dini atau disfungsi ereksi juga berpotensi membuat seseorang menjadi pelaku pelecehan seksual.

Namun, perlu digarisbawahi jika tidak semua orang dengan ciri-ciri di atas dikateogrikan sebagai predator seksual. Banyak faktor yang menjadikan seseorang sebagai pelaku kekerasan seksual.

“Risiko bisa ada. Tapi kalau kesempatan tidak ada, kekerasan tentunya tidak akan terjadi,” pungkas dr. Gina.

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...