Gelar MotoGP Di Indonesia, Banyak Yang Harus Dibenahi

Gelar MotoGP Di Indonesia, Banyak Yang Harus Dibenahi

image0

Jakarta - Diharapkan bukan sekadar mimpi di siang bolong, wacana menggelar MotoGP di Indonesia pada 2017 Namun, pekerjaan rumah untuk Indonesia bakal menumpuk jika memang MotoGP jadi digelar, mengingat bukan hanya faktor sirkuit yang diperhatikan.

Rencana Indonesia akan menjadi tuan rumah salah satu seri balapan MotoGP sudah mulai beredar sejak bulan Juli lalu. Ajang balap motor dunia itu rencananya akan berlangsung di sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Dorna selaku penyelenggara MotoGP saat itu sudah datang ke Indonesia untuk mengadakan pembicaraan dengan pihak pemerintah, dalam hal ini Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dan juga pengelola sirkuit Sentul.

Jika memang kesepakatan untuk menggelar MotoGP tercapai, maka ini kabar baik bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memang penggila balapan kelas primer tersebut.

"Dengarnya sih seneng banget, mudah-mudahan terlaksana sih. Bukan sekadar wacana. Dari saya sendiri, sih saya berdoa semoga jadi. Soalnya kasihan banget kalau tidak jadi, semuanya sudah mengharap kan," ujar pebalap tim Astra Team Honda Asia, Dimas Ekky Pratama, dalam perbincangan dengan detikSport, Kamis (10/9/2015) siang WIB.

"Soalnya di Asia Tenggara, baru Malaysia yang menggelar, tahun depan Thailand rencananya. Mereka sudah gembar-gembor tuh. Pasar Indonesia itu dilirik sama Dorna, karena di sini fansnya besar. Saya menanggapi dengan positif, tapi jangan sampai rencana doang," sambungnya.

Dorna sendiri sudah meminta Indonesia menyetor dana jaminan sebesar 7 juta euro atau sekitar Rp 111 miliar. Jumlah yang disebut Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, terlalu besar bagi pemerintah Indonesia.

Menurut Dimas, menggelar MotoGP bukan hanya soal kemampuan finansial dan adanya sirkuit bertaraf internasional, namun juga ke faktor-faktor pendukung lainnya. Contoh saja seperti keberadaan penginapan bertaraf internasional, akses ke sirkuit Sentul, dan juga perizinan yang kerap jadi hambatan bagi investor asing.

"Yang saya lihat sih, ketika ada event GP, sirkuit itu sudah pasti. Fasilitas lainnya juga perlu diperhatikan, maksudnya kayak penginapan buat tim-tim peserta. Karena tim-tim MotoGP itu bukan seperti tim balap Indonesia. Mereka satu tim itu isinya bisa puluhan orang, mulai dari Moto2, Moto3, hingga MotoGP," sambung Dimas.

"Penginapan tidak boleh sembarang juga, pastinya mereka mau yang bagus. Transportasi dari bandara ke sirkuit juga harus dipikirkan, restoran dan lain-lain. Terus nantinya soal perizinan bagaimana, kayak barang-barang tim MotoGP itu banyak dan pastinya ribet ya. Harusnya dipermudah juga."

"Akses jalan ke sirkuit juga harus dipikirkan. Dulu saja balapan sekelas A1 GP sudah ramai banget. Saya saja kalau habis kejurnas saja, balik ke rumah di Depok bisa 2,5 jam. Bagaimana kalau ada MotoGP, bisa stuck 2 hari di jalan kali. Karena banyak pasti penonton dari luar kota juga," papar Dimas.