Gerhana Matahari Total yang Istimewa dan Semakin Langka

Gerhana Matahari Total yang Istimewa dan Semakin Langka

Senin, 18 Jan 2016 | 09:22 | Rusmanto
WinNetNews.com - Kedatangan gerhana matahari total (GMT) tahun ini begitu dinanti dan menjadi hal yang istimewa karena langka dan melewati wilayah Indonesia. Oleh karena itu perlu diberikan pemahaman yang cukup bagi warga tentang fenomena alam ini dan bagaimana cara menikmatinya.

GMT terjadi saat bulan melintas tepat di antara bumi dan matahari, sehingga membuat bayangan bulan jatuh ke permukaan bumi dan membuat suasana menjadi gelap. Ukuran matahari dan bulan di langit yang seolah-olah sama besar terkadang membuat seluruh permukaan matahari tertutupi oleh bulan dan menghasilkan gerhana matahari total.

Premana W Premadi dari Universe Awareness (UNAWE) Indonesia Observatorium Bosscha mengatakan GMT begitu istimewa dan langka karena GMT terjadi saat posisi bulan berada dekat dengan bumi. Sedangkan semakin hari, bulan bergerak menjauhi bumi. Kondisi ini membuat momen gerhana matahari total semakin hari juga semakin langka. Bahkan dalam rentang waktu yang sangat lama GMT bakal tidak terjadi lagi di tempat yang sama.

"Bulan begerak menjauhi bumi, anak-anak, cucu-cucu kita yang hidup miliaran tahun mendatang tidak akan bisa melihat gerhana matahari total," ucap Premana di acara "Lauching Hitung Mundur Gerhana Matahari Total 2016 di kantor Lapan, Jalan Pemuda Persil, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (14/1/2016).

Fenomena alam ini masih belum dipahami dengan benar oleh masyarakat, bahkan ada yang menganggap GMT sebagai peristiwa yang menyeramkan. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Premana mengatakan edukasi tentang GMT 2016 ini sudah dimulai sejak 2014 dengan menumpang berbagai kegiatan pelatihan guru dan festival Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics (STEAM). Ada juga pengiriman paket pendidikan GMT berupa booklet, brosur dan kacamata gerhana ke beberapa lokasi di wilayah pelosok Indonesia, terutama yang dilintasi totalitas GMT namun tidak dikunjungi oleh ekspedisi pengamatan astronom profesional maupun amatir.

Untuk memberikan edukasi ini, UNAWE juga berkoordinasi dengan program Indonesia Mengajar dan alumni Astronomi ITB di lokasi-lokasi yang dilakukan edukasi, seperti Medan, Balikpapan, Makassar, Lombok dan Kupang.

Sementara untuk dearah utama pengamatan GMT, UNAWE memilih Poso kerena merupakan daerah GMT dan Poso merupakan daerah yang memiliki sejarah konflik yang cukup panjang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini maka bisa mempererat hubungan persaudaraan di sana.

UNAWE sudah melakukan kunjungan persiapan di Poso, yakni tanggal 6-10 Januari 2016. Mereka mengajak Pemda Poso untuk bekerjasama, melakukan sarasehan untuk pemuka masyarakat, pelatihan guru dan siswa dan pemilihan lokasi pengamatan GMT.

"Persiapan pengamatan bersama masyarakat Poso, partisipasi dalam "Kawaniya" Festival Rakyat Poso menyambut GMT, pengamatan bintang malam hari untuk umum. Di Poso menyebut gerhana dengan istilah Kawaniya," ucap Premana.

disadur dari situs detik news

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...