Golkar Perlahan Akan Mendukung Pemerintah

Golkar Perlahan Akan Mendukung Pemerintah

WinNetNews.com - Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai, realitas politik memaksa Partai Golkar khususnya kubu Aburizal Bakrie (ARB) mendukung pemerintah. Padahal, kata Siti sebagai partai yang kalah saat Pilpres, Partai Golkar sudah mulai belajar menjadi partai oposisi.

“Realitas politiklah yang mendorong Partai Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal harus mendukung pemerintahan. Ada tarikan yang kencang dari pemerintah baik dilakukan langsung maupun tidak langsung,” ujar Siti, di Jakarta, Rabu (5/1).

Siti menjelaskan, realitas politik ini terkait dengan dualisme kepemimpinan Partai Golkar yang sampai saat ini belum selesai. Apalagi setelah Menkumham mencabut SK kepengurusan Munas Ancol dan belum menerbitkan SK kepengurusan baru bagi Partai berlambang pohon beringin ini.

“Dualisme ini membuat Partai Golkar mengalami stagnasi kepemimpinan. Islah ternyata sulit dilakukan, sementara Munas belum bisa diselenggarakan. Mau tidak mau, Aburizal mencari opsi lain, yaitu dengan mendukung pemerintah sehingga kepengurusan mendapat pengesahan dari pemerintah melalui Menkumham, sekaligus kemungkinan ada jatah menteri dari Golkar,” jelas Siti.

 

Siti berpendapat, tantangan Golkar saat ini adalah dualisme yang terus dipolitisasi oleh pemerintah sehingga tidak mendapatkan keabsahan dari pemerintah. Menurutnya, hal serupa terjadi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) para era SBY yang membuat PKB di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar mendapat legalitas dari pemerintah.

"Seandainya Partai Golkar solid, mungkin mereka bisa mempertahankan posisinya sebagai oposisi. Namun, ini susah dilakukan karena tarikan kepentingannya sangat kuat,” katanya.

Sementara peneliti CSIS Arya Fernandes menilai, tidak ada keuntungan elektoral yang didapatkan Partai Golkar jika bergabung dengan pemerintah. Pasalnya, keuntungan elektoral umumnya akan dinikmati oleh partai utama yang mendukung pemerintah, yakni PDI Perjuangan.

 

“Ini kan seperti pada zaman SBY. Di tahun kedua pemerintahannya, dia mendapatkan keuntungan elektoral yang besar sehingga menang lagi dalam pilpres,” kata Arya.

Menurut Arya, paling-paling keuntungan yang akan diperoleh Partai Golkar jika mendukung pemerintah, hanya mendapatkan kemudahan akses-akses terhadap kekuasaan dan keuangan Negara. Partai Golkar, katanya akan mendapat jatah menteri dan terlibat dalam program-program strategis pemerintah.

(seperti dilansir Berita Satu)