Golput Meningkat, Salah Media?

Golput Meningkat, Salah Media?

WinNetNews.com - Tingkat golput dalam pilkada serentak tahun ini meningkat. Beberapa pihak menilai hal ini terjadi lantaran media lebih banyak mengekspose kasus pelanggaran etik oleh Ketua DPR, Setya Novanto, jelang Pilkada.

"Papa minta saham itu saya sayangkan, itu berefek kepada menurunnya angka pemilih dan tingginya golput (golongan putih) di mana-mana," kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (10/12/2015), dikutip dari detik.

Politisi PKS ini melihat sorotan media massa terhadap kasus 'papa minta saham' begitu banyak. Di sisi lain, seruan terhadap Pilkada serentak dinilainya kurang gencar.

"Jelang Pilkada, yang muncul di TV bukannya seruan pemimpin supaya memilih, tapi soal 'papa minta saham'," kata dia.

Namun, tak semua masyarakat menjadi enggan mencoblos di Pilkada. Antusiasme masyarakat patut diapresasi. Begitu pula penyelenggara Pilkada.

"Kita bersyukur proses Pilkada berlangsung aman," kata Fahri.

Pada kenyataannya, bila angka golput meningkat dalam penyelengaraan pilkada serentak tahun ini tidak sepenuhnya salah media. Kebanyakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para pejabat  di negeri ini semakin hari semakin menurun. Sehingga masyarakat mulai jemu dengan kehidupan negeri yang penuh dengan politik ini. Karena sejatinya masyarakat hanya ingin hidup tentram dan sejahtera. Bukan hanya sebatas janji-janji parpol saja.