(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Hadapi MEA, Indonesia Pede Dengan Tiga Sektor Ini

Muchdi
Muchdi

Hadapi MEA, Indonesia Pede Dengan Tiga Sektor Ini

WinNetNews.com - Di tiga sektor prioritas, Realisasi investasi hingga triwulan III 2015 mengalami kenaikan, yaitu industri berorientasi ekspor, industri substitusi impor, dan hilirisasi sumber daya mineral. Kenaikan ini dapat mendukung kesiapan Indonesia menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), hal ini dikatakannya oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani.

"Kenaikan realisasi investasi di ketiga sektor tersebut menunjukkan arah pemerintah untuk mendorong industri berdaya saing dan berorientasi ekspor semakin terlihat," kata Franky dalam keterangan tertulis, Jakarta, dilansir Tempo, Sabtu, 31 Oktober 2015. Menurut Franky, kenaikan realisasi investasi itu akan mendukung kesiapan Indonesia menghadapi MEA maupun perjanjian perdagangan bebas lainnya. Penerapan MEA akan mulai dilakukan akhir tahun ini.

Franky mengatakan salah satu concern pemerintah adalah jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar besar bagi produk negara lain. Namun juga harus dapat memanfaatkan peluang ekspor yang semakin lebar dengan terbukanya pasar.

 

Catatan BKPM menunjukan, data realisasi investasi Januari-September 2015 untuk sektor industri berorientasi ekspor adalah Rp 25,7 triliun atau naik 10,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Industri substitusi impor sebesar Rp 34,5 triliun atau naik 15,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara investasi di sektor hilir sumber daya mineral sebesar Rp 33,2 triliun atau naik 66,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Franky mengatakan pihaknya berusaha menarik investasi untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga tidak hanya dijadikan sebagai pasar produk-produk impor. Salah satu concern investor sebelum menanamkan modalnya di Indonesia dan menjadikannya sebagai basis produksi adalah daya saing ekspor Indonesia. "Salah satu indikatornya adalah perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan negara lain."

 

Dia mencontohkan investor sektor tekstil dan sepatu yang menyuarakan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa karena berpengaruh terhadap daya saing ekspornya dibandingkan negara lain khususnya Vietnam. “Jadi pemberlakuan MEA atau perjanjian perdagangan Indonesia dengan negara lain, selain memberi peluang memperbesar ekspor, juga menjadi salah satu daya saing Indonesia dalam menarik investasi dari negara lain,” kata Franky.

Dia optimistis Indonesia dapat lebih siap menghadapi pemberlakuan MEA maupun perjanjian perdagangan lainnya melihat minat investasi di ketiga sektor terkait.

Sepanjang periode Januari-September 2015, BKPM mengidentifikasi minat investasi di sektor industri beriorientasi ekspor sebesar US$ 480 juta, industri substitusi impor US$ 10,34 miliar dan hilirisasi sumber daya mineral sebesar US$ 58,82 miliar.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});