Skip to main content

Hakim Tolak Gugatan Praperadilan Hary Tanoesoedibjo

Ruang Sidang Putusan Praperadilan HTFoto: merdeka.com
Ruang Sidang Putusan Praperadilan HTFoto: merdeka.com

WinNetNews.com - Majelis hakim gugatan praperadilan status tersangka CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo (HT) telah mengetuk palunya. Hakim tunggal, Cepi Iskandar menyatakan penolakan permohonan HT itu di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Menolak permohonan praperadilan dari pemohon,” putus Cepi, Senin (17/07/2017).

Hakim Cepi juga sekaligus menetapkan status hukum bagi Hary Tanoesoedibjo.

“Menyatakan penetapan tersangka terhadap pemohon, Hary Tanoesoedibjo, adalah sah. Demikianlah diputuskan,” tegas Cepi.

Sidang gugatan praperadilan status tersangka CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo (HT) terkait dengan kasus dugaan ancaman melalui pesan elektronik terhadap Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Yulianto. Gugatan praperadilan ini diajukan HT dalam penetapan tersangka atas dirinya yang dinilai tidak tepat bahkan penyidik disebut telah melanggar prosedur.

Pihak HT melihat dari terlambatnya pemberian Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang melanggar keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 130 Tahun 2015. Kubu HT juga mempertanyakan penanganan kasus oleh Polri.

Menurut mereka, perkara yang dituduhkan terhadap HT seharusnya ditangani oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Selain itu, mereka juga mempertanyakan barang bukti yang dimiliki oleh penyidik dimana tidak dilengkapi dengan bukti dari digital forensik pelapor.

Sebelumnya, kuasa hukum HT, Munathsir Mustaman menyatakan jika akhirnya hakim menolak permohonan, ia akan berkonsultasi dengan kliennya untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.

"Langkah hukum selanjutnya kita akan pelajari dan kami akan berkoordinasi dengan HT," tegasnya.

Seperti diketahui, kasus yang menimpa Bos MNC ini bermula ketika Yulianto menerima pesan singkat dari orang tak dikenal pada 5 Januari 2016 silam tepat pukul 16.30 WIB. Isi pesan tersebut yakni:

“Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.”

Pesan sempat tidak dihiraukan oleh Yulianto, tapi ia kembali mendapat pesan melalui pesan chat WhatsApp pada 7 dan 9 Januari 2016 dengan nomor dan format pesan yang sama hanya ditambahkan satu kalimat yang bertuliskan, “Kasihan rakyat yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan semakin maju.”

Setelah melalui penelusuran, Yulianto yakin bahwa pengirim pesan tersebut adalah Hary Tanoesoedibjo (HT). Untuk itu, dirinya melaporkan HT ke Bareskrim Polri dengan Laporan Polisi Nomor LP/100/I/2016/Bareskrim dan diancam Pasal 29 UU Nomor 11/2008 tentang ITE jo Pasal 45B UU Nomor 19/2016 tentang Perubahan UU ITE Nomor 11/2008 (UU ITE).

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini?

Loading Rating...

Komentar:

Loading...
Top