Cyberbully, Hantaman Psikis bagi Perempuan
Foto: via birinsitv.az

Cyberbully, Hantaman Psikis bagi Perempuan

Rabu, 4 Des 2019 | 14:50 | Clarisa Fitria Salsabila

Winnetnews.com - Media sosial merupakan sarana komunikasi zaman sekarang yang sangat melekat pada masyarakat. Penggunaan media sosial telah merubah gaya hidup masyarakat. Ada sisi positif, namun banyak juga hal negatif yang terjadi. Salah satu dampak negatifnya seperti ungkapan “your word is your weapon” karena itu adalah pepatah yang pas untuk menggambarkan betapa besar dampak media sosial sekarang karena hanya dengan kata yang kita lontarkan, dapat berubah menjadi sesuatu yang kejam dan berbahaya yang pada akhirnya dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya karena cyberbully.

Salah satu contoh diantaranya adalah beberapa bulan yang lalu jagat hiburan dunia dihebohkan dengan kematian penyanyi sekaligus artis muda yaitu Sulli mantan personil girl group Korea f(x) yang duduga karena bunuh diri dan depresi berat akibat cyberbully yang diterimanya dalam bentuk hate comment (komentar kebencian), dimana berisi tuntutan dari para fans agar Sulli tampil sempurna. Selain itu kita juga dikejutkan kembali dengan meninggalnya Goo Hara yang menyusul sang sahabat karena hal yang sama.

Cyberbully masih dianggap sepele

Menurut Afdaliza S.Psi, M.Psi., Psikolog (Psikologi London School of Public Relation ) cyberbullying adalah tindakan menyakiti orang lain melalui media sosial atau teknologi sehingga mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan yang biasanya berbentuk intimidasi dari seseorang atau sekelompok orang. Cyberbullying belum bisa dimasukkan dalam klasifikasi kejahatan di dunia cyber karena masih dianggap sebagai permasalahan yang sepele. (Sudarwanto,  2009)(psikologi.uin-malang.ac.id).

Hingga saat ini pun masih belum ada tindakan atau hukuman yang tegas untuk para pelaku cyberbullying. Padahal, kebanyakan korban dari cyberbullying sekarang adalah generasi muda dimana kehidupan mereka sangat dekat dan bahkan tidak bisa lepas dengan teknologi digital.

Cyberbully marak ditujukan kepada perempuan

Dyhta Caturani pendiri Purple Code, menyebut bahwa perempuan lebih rentan mengalami cyberbullying di media sosial karena mereka sering direndahkan akibat atribut fisik, perilaku hingga gaya hidup mereka yang dianggap tidak memiliki standar yang sesuai.

Hingga sekarang pun dapat kita lihat sendiri dari contoh kasus cyberbullying di atas kalau kekerasan di media sosial terhadap perempuan masih kurang diperhatikan, karena banyak dari mereka menganggap hate comment di media sosial adalah suatu candaan yang masih dianggap wajar.

Tingkat depresi perempuan karena cyberbully lebih beresiko

Samantha B. Saltz, dokter psikiatri dari University of Miami Miller School of Medicine dan Jackson Memorial Hospital di Florida, mengatakan bahwa korban dari cyberbullying umumnya akan lebih cenderung mengalami depresi sedang hingga berat, dan merasa tidak percaya diri. Jika dilihat dari sisi psikologis alasan mengapa perempuan tingkat depresinya lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena perempuan memiliki kecenderungan lebih berfikir dan berperasaan.

Karena jika seorang perempuan diserang dengan suatu ide atau statement maka mereka akan memikirkan statement tersebut secara berlebihan, walaupun hanya satu orang yang memberikan statement tersebut. Hal itu akan menjadi beban pikiran tersendiri untuk perempuan sehingga akan menjatuhkan kepercayaan diri mereka, munculnya rasa tidak puas dengan diri sendiri, dan pada akhirnya depresi.

Berbalik dengan laki-laki jika mereka mengalami hal seperti itu mereka masih dapat berdebat atau menangani masalah tersebut dengan argumen yang masuk akal kerena kebanyakan laki-laki  jarang membawa perasaan terhadap statement yang mereka dapat.

***

 

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...