Harus Disegerakan, Kenaikan Harga Rokok Jadi Rp 50.000/Bungkus

Harus Disegerakan, Kenaikan Harga Rokok Jadi Rp 50.000/Bungkus

Sabtu, 20 Agt 2016 | 22:39 | Muchdi

WinNetNews.com - Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Jawa Barat berharap kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus tidak hanya sebatas wacana. Pemerintah pusat didukung untuk segera menerapkan harga baru.

"Kami mendukung langkah pemerintah pusat untuk menekan angka pecandu rokok di Indonesia dengan menaikkan harga rokok menjadi Rp 50.000 untuk setiap bungkusnya atau ada kenaikan dua hingga kali lipat dibandingkan harga lamanya," kata Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan dan Promosi Kesehatan (SDKPK) Dinkes Kota Sukabumi, Irma Agristina seperti ditulis Antara Sukabumi, Sabtu (20/8/2016).

Menurut dia, seharusnya harga rokok tersebut tidak terjangkau khususnya oleh pelajar. Sebab, dampak buruk dari kecanduan merokok tidak hanya mengganggu kesehatannya saja, tetapi bisa merusak psikologi si pencandu khususnya dari kalangan pelajar.

Meski demikian, dia mengakui rencana kenaikan harga rokok akan menimbulkan pro dan kontra. Akan tetapi dampak buruk rokok dinilai lebih besar dari pada manfaatnya. Karena dengan semakin banyak pelajar atau usia produktif kecanduan rokok, maka tingkat kesehatan di masyarakat akan terus berkurang.

Dampak buruk asap rokok ini tidak hanya bagi si perokoknya saja, tetapi orang lain yang ikut mengisap racun yang terkandung dalam asap rokok itu, bahkan bahayanya lebih tinggi.

"Menaikkan harga rokok tidak serta merta mengurangi secara drastis jumlah pecandu, tetapi diharapkan ada dampak positifnya seperti jumlah anak dan keluarga yang merokok berkurang. Sehingga rokok tidak bisa dibeli dengan mudah oleh seluruh kalangan, kecuali mereka yang mempunyai uang lebih," tambahnya.

Di sisi lain, pihaknya miris dengan kondisi peredaran rokok yang dijual secara bebas baik oleh supermarket, minimarket hingga warung kecil kepada pelajar. Bahkan, pelajar secara terang-terangan merokok di depan umum yang masih menggunakan seragamnya.

Walaupun dinkes belum melakukan survei untuk jumlah pelajar yang merokok, tetapi dari pantauan dan sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di beberapa sekolah, ternyata cukup banyak pelajar tingkat SD yang sudah merokok, belum lagi pelajar tingkat SMP dan SMA.

"Maka dari itu, dari pada generasi penerus bangsa ini rusak akibat asap rokok, lebih baik pencegahan di lakukan sejak dini," kata Irma.

Sumber: Merdeka

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...