Heboh Keraton Agung Sejagat Ngaku Kuasai Dunia, Dewan Kerajaan Nusantara Angkat Bicara
via REQnews.com

Heboh Keraton Agung Sejagat Ngaku Kuasai Dunia, Dewan Kerajaan Nusantara Angkat Bicara

Rabu, 15 Jan 2020 | 10:11 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Dewan Kerajaan dalam Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) merespon gegernya kemunculan Keraton Agung Sejagat yang mengaku sebagai penerus Kerajaan Majapahit. Fenomena ini mesti disikapi secara serius menurut tokoh adat di MAKN.

Mengikuti keterangan dari salah salah satu anggota Dewan Kerajaan MAKN, Edward Syah Pernong, definisi sebuah keraton bukanlah hal yang enteng, sebab ia harus memiliki sejarah identitas, tradisi hingga rakyat atau abdi. Apalagi, Keraton Agung Sejagat mengklaim diri sebagai penerus Kerajaan Majapahit yang sudah runtuh berabad-abad silam.

"Sebuah struktur kerajaan itu selesai setelah ditaklukkan. Majapahit selesai setelah ditaklukkan oleh Demak. Demak selesai oleh Pajang. Dan, Pajang ditaklukkan Mataram sampai sekarang. Jadi aneh dan lucu kalau ini meneruskan Majapahit," kata Sultan Sekala Bkhak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong Lampung, dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (14/1).

Edward mengatakan kemunculan klaim-klaim trah kerajaan hingga keraton biasanya timbul dengan beberapa motif, salah satunya adalah motif sosial dan ekonomi.

"Motif sosial, mereka melakukan karena ingin punya harga diri atau strata lebih tinggi. Sedangkan motif ekonomi, pelakunya adalah orang yang memiliki ekonomi lebih, dan beraksinya di daerah yang ekonominya minus," terangnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Kapolda Lampung itu juga mengatakan, yang menjadi persoalan adalah kemunculan Keraton Agung Sejagat itu membuat orang yang diajak bergabung diiming-imingi bayaran atau gaji tinggi. Namun seiring waktu berjalan, janji itu akan terbukti hanyalah kebohongan. Selain itu, ada pula justru yang memungut uang sebagai syarat masuk anggota Keraton yang nantinya bergaji tinggi.

"Yang serius bila ada eksploitasi ekonomi. Masyarakat yang diiming-iming penghasilan lebih, langsung tertarik dan meninggalkan pekerjaannya. Setelah dijalani, janji itu bohong belaka. Ada juga yang memungut uang untuk mereka yang minat masuk Keraton. Kerugian masyarakat ini yang harus didalami Polisi," tutur Edward.

Fenomena ini membuat kepolisian harus bertindak dengan meringkus Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41), dua orang yang mengikrarkan diri sebagai Raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat. Penangkapan dilakukan di Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (14/1) petang.

Secara hukum, raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat dapat diduga melakukan perbuatan melanggar pasal 14 UU No 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong berakibat membuat onar di kalangan rakyat dan pasal 378 KUHP tentang penipuan.

"Masalah budaya, kejahatan budaya sering kita lengah. Padahal untuk menjaga nilai luhur budaya, harus ada perlindungan karena klaim-klaim dari pihak tak bertanggungjawab yang mengatasnamakan LBH Budaya, pemerhati budaya, aktivis budaya bisa menggerus kebudayaan itu sendiri," kata Edward.

Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan Keraton Agung Sejagat yang berada di Desa Pogung Jurutenga, Kecamatan Bayan, Purworejo sempat viral sejak akhir pekan lalu.

MOST READ

RELATED STORIES

Loading interface...